Kamis, 14 Oktober 2010

Ketika Mata Hati Kita Buta!

        Pernah ada satu kisah seorang gadis yang membenci dirinya sendiri bahkan semua orang yang disekelilingnya dia benci, kecuali kekasihnya yang selalu setia menemani dan memberikan dorongan semangat untuk hidup. Padahal sebenarnya gadis itu cantik kekurangan yang ada dirinya hanya satu karena kedua matanya tidak bisa melihat. Sehingga dalam keseharian dirinya selalu meratapi hidupnya.
Namun gadis itu sangatlah beruntung memiliki pujaan hati yang cukup sabar mendengar segala keluh kesahnya, bahkan mampu menghibur dan membuatnya tersenyum. Kecintaan pada gadis itu pun dibuktikannya dengan datang melamar gadis tersebut untuk dinikahinya, tetapi sang gadis hanya rela dinikahi bila sudah dapat melihat dengan sempurna.
Doa gadis itu akhirnya terkabul. Ada seseorang yang bersedia mendonorkan matanya. Betapa bahagia dirinya begitu menyaksikan dunia baru yang indah dan penuh warna. Kekasihnya juga ikut bahagia merasakan kegembiraan. Dia segera menagih janji gadis itu.
"Sekarang dirimu sudah bisa melihat dunia, Apakah kamu mau menikah denganku?’ tanya sang kekasihnya.
Gadis itu terguncang disaat melihat kekasihnya ternyata seorang pemuda yang buta juga. Gadis itu kecewa dan menolak untuk menikah dengan pujaan hatinya yang buta.

Rabu, 13 Oktober 2010

Meluruskan Tuduhan Terhadap Islam (Bag. 2)

Jawaban No. 4 
Benarkah Ismail tidak berkenan dihadapan Tuhan, berdasarkan Kitab Kejadian 17:18-19 ?
Tidak Benar! Karena kutipan ayat yang ditampilkan dalam konteks peristiwa tersebut hanya potongan ayat yang tidak utuh, maka terkesan bahwa Ismail benar-benar tidak direstui Allah sebagaimana bunyi potongan ayat dibawah ini:
Dan Abraham berkata kepada Allah: ”Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!” Tetapi Allah berfirman: “Tidak,…” (Kejadian 17:18-19)
Bagi orang Kristen (versi Pendeta Suradi) ayat ini dibesar-besarkan. Terkesan seolah-olah Ismail tidak berkenan di mata Tuhan, tidak disukai dan dibenci oleh Tuhan karena dia anak Ibrahim dari budak. Maka ketika Ibrahim memohon kepada Tuhan agar Ismail, anaknya yang pertama diperkenankan hidup dihadapan Tuhan, justru permohonan ini ditolak oleh Tuhan.
Hal ini sengaja dilakukan hanya untuk mendiskreditkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Salam, melalui leluhur beliau (Ismail). Mereka ingin membentuk suatu opini buruk terhadap leluhur Muhammad.  Sebab jika leluhurnya jelek, pasti semua keturunannya, yaitu semua orang Arab, termasuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Salam akan dianggap jelek pula.

Selasa, 12 Oktober 2010

Meluruskan Tuduhan Terhadap Islam (Bag. 1)

Oleh. Tim Fakta

Dalam Aqidah Islam kita dilarang bersifat diskriminatif (membeda-bedakan) terhadap Nabi-nabi Allah. Semua Nabi di dalam Islam itu sama tidak ada yang lebih tinggi dan rendah, serta tidak ada yang lebih besar dan kecil. Oleh karenanya penyebutan istilah ”Nabi Besar” dalam Islam itu tidak dibenarkan sekalipun itu dialamatkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Salam, sebab bertentangan dengan firman Allah dibawah ini.


 لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ [سورة البقرة: 285]
”Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, (Qs. Al-Baqarah : 285)
Namun berbeda dengan umat Kristen yang umumnya hobi membanding-bandingkan antara Nabi Isa Alaihi Salaam (Yesus) dengan nabi-nabi yang lainnya, terutama dengan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Salam. Pendeta yang paling aktif memuja Nabi Isa Alaihi Salaam sambil melecehkan dan menghujat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Salam adalah dr. Suradi Ben Abraham, pimpinan Christian Centre Nehemia (CCN) Jakarta. Melalui buku dan brosur-brosur yang menggunakan nama-nama Islam banyak diedarkan ke kalangan umat Islam, diantaranya brosur Shiraathal Mustaqiim yang berjudul  ”Siapakah Yang Bernama Allah itu?. Dikatakan bahwa bangsa Arab (bangsanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Salam) tidak layak hidup dihadapan Tuhan.
Alasannya, karena bangsa Arab adalah keturunannya Ismael (dalam Islam, disebut Ismail) yang berasal dari Hagar (dalam Islam disebut Hajar) adalah seorang budak Mesir yang hina. Adapun bangsa Mesir disebut keturunan Ham yang terkutuk. Selain itu juga alkitab (bible) menyebutkan bahwa Ismail itu prilakunya seperti keledai liar. Dalil yang dipakai dalam brosur Shiraathal Mustaqiim ”Siapakah Bernama Allah itu?” diantaranya sebagai berikut: