Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Januari 2018

Inilah Jalan kami


Oleh. Rio Efendi Turipno


Pernahkah terpikir oleh anda untuk menjadi mercusuar? Mercusuar adalah alat yang tak henti-hentinya memancarkan cahaya, memberikan peringatan akan adanya bahaya, serta memberi petunjuk ke arah keselamatan, kepada setiap kapal yang lewat, tanpa pilih bulu dan tanpa kenal henti.

Berkat keberadaannya banyak sudah kapal dan perahu terselamatkan dari waktu ke waktu dan dari masa ke masa. Semua itu dilakukan tanpa mengharapkan imbalan ataupun sekedar ucapan terima kasih.


Demikian juga seorang aktivis dakwah, entah siapapun dia dan darimanapun dia berasal, ia laksana mercusuar, ia terus memberikan manfaat dan membimbing umat ini tanpa kenal lelah dan tidak membeda-bedakan kelompok ataupun golongan. Ia seakan-akan mengajarkan kepada umat ini bahwa dakwah adalah cinta.

Dakwah adalah Cinta
Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai.
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya juga tidak membosankan, justru terkadang menyakitkan. Bahkan tidak jarang juga para pejuang dakwah ini menghadapi godaan kefuturan.
Namun, sebesar apapun tantangan yang kita hadapi, tetap kita harus yakin Allah senantiasa bersama kita, dan apa yang kita hadapi itu adalah bagian dari ujian iman yang Allah berikan kepada kita untuk membuktikan seberapa besar kecintaan kita pada dakwah ini.

Kamis, 22 Desember 2011

Ibu...! Mengapa Engkau Menangis?

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya: "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab: "Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak".

"Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya: "Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?" Sang ayah menjawab: "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan."Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?"

Dalam mimpinya, Tuhan menjawab: "Saat Ku-ciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Ku-ciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Ku-berikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali, ia menerima cerca dan makian dari anaknya itu, tatkala mereka dewasa.

Ku-berikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa. Sehingga dengan kesabaran, dia terus merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Ku-berikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu sering melukai perasaannya, melukai hatinya. Dengan perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sehingga sentuhan akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Rabu, 27 Oktober 2010

Marilah, Bertutur Kata Yang Baik

Saat ini semakin maju zaman, semakin manusia menjauh dari akhlaq yang mulia. Begitu banyak nilai-nilai dalam Islam yang pada hari ini semakin terasa asing bila diterapkan dalam kehidupan kita. Perangai jahiliyah dan kekasaran dalam ucapan dan prilaku masih saja meliputi sebagian kaum muslimin. Padahal akhlaq yang diajarkan dalam Islam inilah membuat semakin banyak orang tertarik pada Islam dan dapat dengan mudah menerima ajaran Islam, Tetapi sayang, jangankan untuk berbuat baik kepada orang lain, memberikan salam dan bertutur kata yang baik kepada sesama muslim saja begitu sulit.
Apakah mereka lupa, bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala, telah memerintahkan kita berlaku lemah lebut (rendah hati)? Perhatikanlah firman Allah dibawah ini:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. ” (Qs. Al Hijr: 88)
Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengatakan, “(Berendah dirilah) yang dimaksud dalam ayat ini hanya untuk mengungkapkan agar seseorang berlaku lemah lembut dan tawadhu' (rendah diri).”[1] Jadi sebenarnya ayat ini berlaku umum untuk setiap perkataan dan perbuatan, yaitu kita diperintahkan untuk berlaku lemah lembut. Ayat ini sama maknanya dengan firman Allah Ta'ala berikut,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ الله لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ القلب لاَنْفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159).

Yang dimaksud dengan bersikap keras di sini adalah bertutur kata kasar.[2] Dengan sikap seperti itu malah membuat orang lain akan lari dan menjauh dari kita. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Berlaku lemah lembut inilah akhlaq Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam yang di mana beliau diutus dengan membawa akhlaq yang mulia ini.” [3]

Dahsyatnya, Menebarkan Salam

Mengucapkan salam kepada sesama muslim kini perlahan-lahan mulai hilang dari kebiasaan kita. Padahal sesuatu yang terkadang dianggap sepele, namun sesungguhnya memiliki dampak yang luar biasa dalam kehidupan kita. Jikapun mampu diterapkan, itu hanya sebatas terucapkan pada orang-orang yang kita kenal. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ أَيُّ اْلإِسْلاَمِ خَيْرٌ، قَالَ: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
“Dari Abdullah bin Umar ra, dia berkata: “Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, manakah ajaran Islam yang lebih baik?” Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah engkau memberi makanan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.”[1]
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُسَلِّمَ الرَّجُلُ عَلَى الرَّجُلِ لَا يُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلَّا لِلْمَعْرِفَةِ
“Dari Ibn. Mas’ud ra, berkata: bahwa Rasulullah Saw, bersabda: "Tanda-tanda hari itu (kiamat) Seorang lelaki mengucapkan salam kepada lelaki lainnya dan dia tidak mengucapkan salam tersebut kecuali karena ia mengenalnya" [2]
Padahal yang paling pertama memerintahkan salam adalah Allah Yang Maha Tinggi, di mana Allah memerintahkan Adam as, untuk mengucapkannya kepada para malaikat.
إِنَّ اللهَ لَمَّا خَلَقَ آدَمَ قَالَ اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلىَ أُلئِكَ اْلمَلاَئِكَةِ فَاسْتَمِعْ مَايُجِيْبُوْنَكَ تَحِيَتُكَ وَتَحِيَّة ذُرِّيَتِكَ فَقَالَ َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ, فَقَالُوْا: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ َوبَرَكَاتُهُ
"Sesungguhnya Allah Ta'ala saat setelah menciptakan Adam alahis salam, Dia berfirman kepada Adam: "Pergilah dan ucapkanlah salam kepada para malaikat ini dan dengarkanlah dengan apakah mereka menjawabmu, sebagai ucapan penghormatan bagimu dan bagi keturunanmu". Lalu Adam berkata: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ  mereka menegaskan: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ َوبَرَكَاتُهُ…” [3]
Mungkin banyak dari kita yang lebih akrab dengan ucapan “Selamat pagi, selamat siang, ataupun selamat malam”. Apalagi kalau ketemu dengan saudara-saudara seaqidah (sesama muslim), baik disekolah maupun dikantor, rasanya lebih enak mengucapkan “selamat pagi atau selamat siang, dsb”. Padahal ucapan-ucapan tersebut jauh dan kering dari semangat persaudaraan jika dibandingkan dengan ucapan salam dalam Islam, yakni:
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ َوبَرَكَاتُهُ
”Semoga keselamatan, dan rahmat Allah serta  berkah-Nya selalu menyertai kamu sekalian”

Minggu, 24 Oktober 2010

Mempertahankan Kemuliaan Manusia

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

(1). Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Tinggi, (2). Yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), (3). Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, (4). Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, (5). Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman. (Qs. Al-Alaq ayat 1-5)

Pada wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, Allah subhanahu wa ta’ala memperkenalkan diri-Nya dengan sebutan “al-Khaliq” (Pencipta). Sedangkan yang selain Dia disebut “makhluq”, (yang dicipta). Kedua kata, khaliq dan makhluq berakar dari kata kerja kha-la-qa, yang mempunyai dua bentuk masdar (asal kata), yaitu khalqan dan khuluqan. Khalqan bermakna penciptaan yang bersifat fisik, Sedangkan khuluqan adalah penciptaan yang bersifat kejiwaan atau ruhiyah. Kata khuluqan itulah yang kemudian dapat dikembangkan menjadi khuluq atau dalam bentuk jamaknya akhlaq, sebagaimana yang banyak dikenal dalam khazanah Islam.

Tujuan Penciptaan Manusia


Manusia menurut Nurcholish Madjid memang merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang mengagumkan dan penuh misteri. Dia tersusun dari perpaduan dua unsur; segenggam tanah bumi, dan ruh Allah, maka siapa yang hanya mengenal aspek tanahnya dan melalaikan aspek tiupan ruh Allah, maka dia tidak akan mengenal lebih jauh hakikat manusia. Al-Qur'an sendiri juga menyatakan bahwa manusia memang merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Ada banyak sekali kelebihan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk-makhluk-Nya yang lain. Ada beberapa “perangkat” yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada manusia yang menjadikannya unggul dan terdepan dari para makhluk lainnya seperti; memiliki daya tubuh yang membuat fisiknya kuat; daya hidup yang membuatnya mampu mengembangkan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan serta mempertahankan diri menghadapi tantangan; daya akal yang membuatnya memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi; daya kalbu yang memungkinkannya bermoral, merasakan keindahan, kelezatan iman, dan kehadiran Allah. 

Oleh karena itu, manusia perlu menyadari eksistensi dan tujuan penciptaan dirinya, memahami risalah hidupnya selaku pengemban amanah Allah, melalui arahan dan bimbingan yang berkesinambungan agar kehidupannya menjadi lebih berarti. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya segala sesuatu diciptakan dengan adanya satu tujuan. Dengan tujuan itulah kemudian sesuatu difungsikan dan dengan adanya fungsi itulah maka keberadaan sesuatu menjadi berarti. Demikian juga adanya manusia di bumi ini. Ia pasti diciptakan untuk satu tujuan tertentu. 

Tulisan ini mencoba untuk membahas tujuan penciptaan manusia sebagaimana yang ada di dalam penghambaan dirinya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Dalam pembahasan ini penulis menfokuskan pada dua ayat yang secara eksplisit menunjukkan tujuan Allah Subhanahu wa ta’ala  dalam penciptaan manusia yaitu dalam surah al-Dzaariyaat ayat 56 dan al-Baqarah ayat: 30. Pembahasan dalam tulisan ini lebih bercorak pada penafsiran tematis ilmiah karena penulis juga mencoba menghubungkan bahasan dalam makalah ini dengan penemuan ilmiah terkini.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Belajar Dari Kura-Kura

Apa yang membedakan manusia dengan makhluk lain? Kita bilang; ‘akal!’. Manusia memiliki akal, sedangkan mahluk lain tidak. Itulah sebabnya manusia bisa mengklaim diri sebagai mahluk Tuhan yang paling sempurna. Sebab, dengan akalnya itu manusia bisa melakukan begitu banyak hal yang tidak bisa dilakukan kucing, kelinci, ataupun bunga melati. Sayangnya, tidak semua yang bisa dilakukan manusia itu digunakan untuk kebaikan sesama. Karena pada kenyataannya, akal kita sering digunakan untuk ‘mengakal-akali’ dengan cara melakukan apapun demi kepentingan segelintir individu atau kelompok tertentu. Oleh karena itu, banyak buah pahit dari hasil karya akal manusia itu. Dengan demikian, untuk menjadi ‘mahluk sempurna’ seperti klaimnya, manusia mesti memiliki piranti lain. Sehingga kecerdasan akalnya dapat diimbangi oleh kearifan dari dalam dirinya. Apakah gerangan piranti itu?

Sesekali, kita perlu memperhatikan para kura-kura. Seekor kura-kura kalau hendak berjalan pastilah akan mengeluarkan kepalanya dari dalam tempurungnya. Dan ini adalah isyarat yang kura-kura berikan pada kita bahwa memang benar kita harus menggunakan kepala alias otak dan akal pikiran kita supaya kita bisa melakukan ini dan itu. Tanpa kepala kita tidak bisa membangun suatu hasil karya cipta apapun. Sebab, kepalalah pusat segala kekuatan kreatif imajinatif yang membantu menusia menghasilkan berbagai macam penemuan. Sehingga, kita bisa membangun peradaban. Itu benar.

Selasa, 19 Oktober 2010

Menjaga Lisan Kita

Setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan dirinya (bukan memberi manfaat), kecuali kata-kata berupa amar ma’ruf nahi mungkar (memerintahkan kebaikan, melarang kemungkaran) dan Dzikrullah Azza wa Jalla (mengingat Allah Azza wa Jalla). (HR Tirmidzi)

Mengapakah pada saat-saat beribadah kepada Allah, kita sering tidak  merasakan kekhusyukan, apalagi sampai dapat menitikkan air mata, sehingga hampir tidak pernah terasakan lagi lezat dan nikmatnya menghadap Allah?

Ternyata semua itu berpangkal dari hati yang kesat dan kotor. Di dalam hati yang demikian memang tak akan pernah bersemayam nuur (cahaya) iman yang sesungguhnya. Akibat lain dari memiliki hati yang busuk, kusam, kusut, dan kotor adalah tidak akan pernah mampu kita melahirkan kalimat-kalimat lisan yang benar dan bermutu. Tiap-tiap kalimat yang keluar dari lisan, kata Syeikh Ibnu Atha’illah, pastilah membawa corak bentuk hati yang mengeluarkannya. Betapa tidak? Hati itu bisa diibaratkan dengan teko. Teko hanya mengeluarkan isinya. Bila ia berisi air kopi, maka yang keluarpun pastilah air kopi. Demikian pula jika isinya air bening, maka yang keluar pun pastilah air bening.

Terjadinya lisan seseorang menghamburkan kata-kata kasar, menyakitkan, jorok, dan sia-sia, semua itu, tidak bisa tidak, bersumber dari hati yang tidak beres. Seseorang yang hatinya tidak selamat akan sangat sulit mengendalikan lisannya. Apa saja yang terlihat di depan matanya niscaya akan membuat lidahnya gatal untuk segera berkomentar, terlepas dari komentarnya itu bermutu atau tidak, bermanfaat bagi dirinya atau tidak, ada yang mendengarkan atau tidak. Jelas, tak akan pernah disadari bahwa perkataaanya mungkin bisa sisa-sia.

Senin, 18 Oktober 2010

Jilbab Dan Kecantikan

Mendengar kata cantik, yang terbayang adalah seorang wanita yang anggota wajahnya (mata, hidung dan bibir) proporsional, sedap dipandang mata. Cantik juga dikaitkan dengan kulit yang terawatt baik, rambut hitam bercahaya, bentuk tubuh langsing dan gaya berbusana yang up to date.

Bicara soal busana, seringkali yang dituduh sebagai penyebab ketidakcantikan seorang adalah jilbab. Dengan pakaian yang syar’i, memang bentuk tubuhnya yang langsing tak tampak lagi.

Kecantikan fisik merupakan salah satu nikmat dari Allah yang dikaruniakan kepada sebagian saudari kita. Misalnya saja, suatu ketika kita diberikan nikmat oleh Allah berupa harta yang sangat berharga. Tentunya kita hati-hati menjaga harta itu, melindunginya dari jamahan orang lain, tidak menghamburkan pada setiap orang, dan hanya mempergunakan di saat yang memang benar-benar tepat. Lalu, bagaimana jika kenikmatan itu berupa kenikmatan fisik, khususnya kecantikan seorang wanita?

Mengobral kecantikan fisik pada setiap orang, seolah membiarkan barang yang amat berharga dijadikan keroyokan banyak orang. Dengan begitu, status berharga pun jadi barang rendah dan murah, karena setiap orang akan mudah menikmatinya, beginikah yang diinginkan para wanita?

Sabtu, 16 Oktober 2010

Janji Bukan Hanya Sebatas Ucapan!

Allah Subhanahu wa ta'ala telah berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا [النساء: 145]

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka." (QS. An-Nisaa: 145)

Munafik berasal dari kata na-faqa (نَافَقَ), yuna-fiqu (يُنَافِقُ), nifa-qan (نِفَاق) dan muna-faqatan (مُنَافَقَةً). Secara bahasa berarti salah satu lubang tempat keluarnya yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, dimana bila ia dicari dari salah satu lubang maka ia keluar dari lubang lainnya. Atau bisa diartikan memiliki dua lubang (wajah).

Secara syara’ berarti menampakkan ke-Islaman dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dikatakan demikian karena dia masuk pada syari’at dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain. Nabi bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, tentang ciri-ciri orang munafik, yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ] رواه البخاري [32
Dari Abu Hurayrah, bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Ciri-ciri orang munafik ada tiga: pertama, apabila ia berbicara ia berdusta; kedua, apabila ia berjanji ia mengingkari; ketiga, apabila diberi amanah ia berkhianat." (HR. Bukhari, no. 32)
 
Dari hadits tersebut dapat dilihat bahwa ingkar terhadap janji adalah salah satu tanda orang-orang Munafik. Dengan demikian pokok pembahasan kali ini mengarah pada persoalan janji. Dimana janji bukanlah perkara biasa. Meski pun kenyataannya janji sering muncul sebatas ucapan, yang begitu saja mudah dilupakan, seolah tiada bekas sama sekali. Padahal, kedudukan janji sangat tinggi pertanggungjawabannya di sisi Allah.

Dalam hadits riwayat  Bukhariy  diatas, sudahlah jelas orang-orang yang senang mengingkari janji dikategorikan sebagai orang-orang munafik. Selain itu, Al-Quran pun mensinyalirnya sebagai berikut, Orang-orang munafik mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak ada terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (QS. Ali Imran: 167).

Kamis, 14 Oktober 2010

Ketika Mata Hati Kita Buta!

        Pernah ada satu kisah seorang gadis yang membenci dirinya sendiri bahkan semua orang yang disekelilingnya dia benci, kecuali kekasihnya yang selalu setia menemani dan memberikan dorongan semangat untuk hidup. Padahal sebenarnya gadis itu cantik kekurangan yang ada dirinya hanya satu karena kedua matanya tidak bisa melihat. Sehingga dalam keseharian dirinya selalu meratapi hidupnya.
Namun gadis itu sangatlah beruntung memiliki pujaan hati yang cukup sabar mendengar segala keluh kesahnya, bahkan mampu menghibur dan membuatnya tersenyum. Kecintaan pada gadis itu pun dibuktikannya dengan datang melamar gadis tersebut untuk dinikahinya, tetapi sang gadis hanya rela dinikahi bila sudah dapat melihat dengan sempurna.
Doa gadis itu akhirnya terkabul. Ada seseorang yang bersedia mendonorkan matanya. Betapa bahagia dirinya begitu menyaksikan dunia baru yang indah dan penuh warna. Kekasihnya juga ikut bahagia merasakan kegembiraan. Dia segera menagih janji gadis itu.
"Sekarang dirimu sudah bisa melihat dunia, Apakah kamu mau menikah denganku?’ tanya sang kekasihnya.
Gadis itu terguncang disaat melihat kekasihnya ternyata seorang pemuda yang buta juga. Gadis itu kecewa dan menolak untuk menikah dengan pujaan hatinya yang buta.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Pentingnya Berfikir

Berpikir adalah pekerjaan kita sehari-hari. Namun sayangnya, kebanyakan manusia hanya menggunakan sedikit sekali potensi berpikir. Padahal berpikir adalah kunci menuju sukses dan kebahagiaan. Bahkan, masih banyak orang yang belum mengerti proses berpikir tersebut. Dalam Al Quran, ada banyak kata yang kita artikan berpikir. Mengapa banyak? Karena memang masing-masing memiliki makna dan proses yang berbeda. Sejauh mana kita mengetahui cara berpikir? Jika caranya saja kita belum mengerti, bagaimana kita bisa melakukannya? Dan, kenapa harus report memikirkan tentang berpikir?

Berpikir adalah menghadirkan dua pengetahuan untuk mendapatkan pengetahuan ketiga. Disebut tafakkur karena dalam semua proses itu menggunakan dan menghadirkan pikiran. Namun, berpikir tidak hanya disebut dengan istilah tafakur saja, masih ada istilah lain yang perlu kita fahami masing-masing agar kita mampu berpikir lebih baik dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kita.

* Dan, disebut tadzakkur karena menghadirkan ilmu yang harus diingat-ingat setelah terlupa dan hilang.

* Disebut nadhar karena melihat dengan mata hati pada hal yang dipikirkan.

* Adapun disebut ta’ammul karena mengulang-ulang pikiran sampai terlihat jelas dan terbuka bagi hatinya.

* Sementara itu, disebut i’tibar (wazan ifti’al dari kata ‘ubur yang berarti menyeberangi) karena dia menyeberang dari suatu hal ke hal yang lain; dia menyeberang dari hal yang dipikirkannya menuju ke pengetahuan ketiga. Yang disebut dengan pengetahuan ketiga ini adalah tujuan dalam i’tibar itu.

* Oleh karenanya, hal itu pun disebut sebagai ‘ibrah. Kata Ibrah mengikuti wazan isim haal seperti kata jalsah, rikbah dan qitlah. Ini untuk menunjukkan bahwa ilmu dan pengetahuan telah menjadi haal (karakter) bagi pemiliknya.

* Disebut tadabbur karena merupakan perenungan tentang akibat dan akhir suatu perkara.Jadi, arti mentadaburi suatu kalimat adalah memikirkannya dari bagian awal sampai akhir, kemudian mengulang-ulangi perenungannya. Oleh karena itu, bentuknya mengikuti wazan tafaa’ul, seperti tajarru’, tafahhum, dan tabayyun.

* Dan disebut istibshar, wazan istif’al dari kata tabasshur yang berarti jelas dan tersingkapnya sesuatu hal di depan bashirah (mata hati).

Baik tadzakkur maupun tafakkur punya faedah masing-masing. Tadzakkur berarti hati mengulang-ulang apa yang diketahuinya agar tertanam dengan kuat di dalamnya, sehingga tidak terhapus dan pudar dari dalam hati secara keseluruhan. Adapun tafakur berarti memperbanyak ilmu dan mencari apa yang belum ada di hati. Jadi tafakur itu gunanya mencari ilmu dan tadzakkur berguna untuk menjaganya.

Jadi, tafakkur dan tadzakkur adalah benih ilmu. Saling bertanya adalah siramannya, dan mudzakarah adalah pembuahannya.

Kebaikan dan kebahagiaan itu tersimpan di dalam sebuah gudang, kuncinya adalah tafakkur. Jadi harus ada tafakkur dan ilmu. Apabila dari proses itu kemudian hati memperoleh ilmu, maka setiap orang yang melakukan suatu hal yang baik atau buruk pasti ada satu kondisi di hatinya yang terwarnai oleh ilmunya. Kondisi itu melahirkan iradah (kehendak), dan iradah melahirkan amal.

Sampai di sini ada lima hal:
1. berpikir,
2. buahnya, yaitu ilmu,
3. buah dari keduanya, yaitu keadaan yang terwujud bagi hati,
4. buah yang ditimbulkannya, yaitu iradah, dan
5. buah iradah, yaitu amal.

Dengan demikian, ilmu adalah titik permulaan dan kunci segala kebaikan.

Hal ini tentu membuktikan keutamaan dan kemuliaan tafakkur. Hal itu juga membuktikan bahwa tafakkur tergolong amal hati yang paling utama dan paling bermanfaat bagi hati itu sendiri; sampai dikatakan, “Tafakkur sesaat lebih baik dari ibadah setahun.” Hanya berpikir yang dapat mengubah seseorang dari matinya kecerdasan kepada hidupnya kesadaran, dari kebencian kepada cinta, dari rakus dan tamak menjadi zuhud dan qana’ah, dari penjara dunia ke cakrawala akhirat, dari sempitnya kebodohan ke lapangnya ilmu, dari penyakit syahwat dan cinta kehidupan fana ini ke sehatnya taubat kepada Allah dan mengesampingkan dunia, dari musibah buta, tuli, dan bisu ke nikmat melihat, mendengar, dan paham tentang Allah. Juga dari penyakit-penyakit syubhat (keraguan) ke sejuknya keyakinan dan tenteramnya dada.

[Sumber: Kunci Kebahagiaan, karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Penerbit Akbar Media Aksara]

Saat Kematian Memberi Salam Kepadaku

Aku tertegun ketika melihat sosok dengan wajah pucat dan disumpal dengan kapas pada mulut, hidung, dan telinganya. Yang terbujur kaku dihadapanku. Diselimuti dengan kain berlapis. Dia begitu mirip denganku. Di sekelilingnya orang-orang terisak nangis. Seorang perempuan yang mirip ibuku menangis tersedu-sedu ketika membuka kain penutup mukanya. Lalu dua perempuan lain yang sebaya dengannya menenangkan dia. Dan di sekitar rumahnya ada orang-orang yang menyesali kematiannya yang dianggap begitu cepat. Ada orang yang tidak percaya kalau dia telah wafat. Ada orang yang merasa kasihan pada dia dan keluarga yang ditinggalkannya. Suasana disitu begitu riuh oleh isak para pelayat. Di teras rumahnya seorang bapak menahan tangis lirih airmatanya. Dia mencoba terlihat tegar meski sebenarnya hatinya begitu lemah untuk menerima kenyataan yang ada. Disampingnya seorang temannya mencoba menemaninya, dan hal itu agak meringankan kesedihannya. Dia masih ingat, ketika dulu anaknya yang masih TK memenangkan lomba menggambar tingkat provinsi dan tentang cita-cita anaknya yang ingin menjadi presiden, dia begitu bangga. Betapa anaknya itu akan tumbuh menjadi sosok yang sangat luar biasa. Tak pernah dia berpikir kalau semua itu akan pupus pada usia anaknya yang masih 18 tahun. Sungguh tragis.

Tiba-tiba, sesuatu yang aneh bergerak dalam kepalaku. Ada sesuatu. Ini seperti rumahku. Hey !! Aku ingat, Aku kenal orang-orang ini. Perempuan yang menangis ketika membuka kain penutup muka itu adalah ibuku, dan bapak itu, itu adalah bapakku. Dan jasad yang terbaring itu, itu jasadku. Aku bingung. Benar-benar bingung. Aku sudah mati? Tidak! Ini pasti mimpi. Yah, ini pasti mimpi.

Lalu tiba-tiba aku merasa panas pada tubuhku. Sangat panas, lalu kemudian perlahan-lahan mulai sejuk. Seketika itu muncul sesosok laki-laki bercahaya dan berwajah tampan yang mengenakan jubah putih serta sorban yang juga berwarna putih di kepalanya. Dia menghampiri diriku.

“siapa gerangan tuan?” tanyaku kebingungan. “aku adalah amalmu yang akan menemanimu dalam kuburmu.” jawabnya, lalu ia tersenyum padaku.

Aku masih bingung.

Indahnya Memberi

Oleh M. Anis Matta, Lc

Cinta itu indah. Karena ia bekerja dalam ruang yang luas. Dan inti pekerjaannya adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang kita cintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.

Para pencinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka, yakni Memberi. Terus menerus memberi. Dan selamanya begitu. Menerima? Mungkin, atau bisa juga jadi pasti! Tapi itu efek. Efek dari apa yang mereka berikan. Seperti cermin kebajikan yang memantulkan kebajikan yang sama. Sebab, adalah hakikat di alam kebajikan bahwa setiap satu kebajikan yang kita lakukan selalu mengajak saudara-saudara kebajikan yang lain untuk dilakukan juga. Itu juga yang membedakan para pencinta sejati dengan para pencinta palsu. Kalau kamu mencintai seseorang dengan tulus, ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu adalah apa yang kamu berikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Maka kamu adalah air. Maka kamu adalah matahari. Ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Ia besar dan berbuah dari sinar cahayamu.

Para pencinta sejati tidak suka berjanji. Tapi begitu mereka memutuskan mencintai seseorang, mereka segera membuat rencana memberi. Setelah itu mereka bekerja dalam diam dan sunyi untuk mewujudkan rencana-rencana mereka. Setiap rencana memberi terealisasi, setiap itu satu bibit cinta muncul bersemu dalam hati orang yang dicintai. Janji menerbitkan harapan. Tapi pemberian melahirkan kepercayaan.

Kita Harus Berjuang

Kota suci Makkah, awal masa kenabian. Ruas-ruas waktu serasa berjalan sangat lamban, seakan turut mengeja duka yang dirasa Rasulullah atas kebengisan orang-orang Quraisy. Seperti hari itu, Rasulullah sedang shalat di sekitar Ka'bah. Sementara Abu Jahal dan kawan-kawannya duduk-duduk memandangi Rasulullah. Mereka saling berseloroh, "Siapa yang berani mengambil isi perut onta dari si fulan lalu menimbunkannya ke atas pundak Muhammad ketika is sujud?" Maka pergilah salah seorang mereka mengambil isi perut onta itu. Ketika Rasulullah sujud, secepatnya is timbunkan kotoran itu ke punggungnya.

Rasulullah terus sujud. Sementara orang-orang kafir yang najis itu terpingkal-pingkal dan saling memandangi satu sama lain. Rasulullah tidak mengangkat sujudnya. Hingga Fatimah, putri tercintanya datang membersihkan kotoran itu. Rasulullah segera bangkit, lalu menengadahkan do'a. "Ya Allah balaslah orang-orang Quraisy itu."

Di kali lain, Rasulullah berjalan di lorong Makkah. Tiba-tiba orang-orang Quraisy mengguyurkan tanah ke atas kepalanya. Rasulullah bergegas pulang. Setibanya di rumah, putri tercintanya menangis melihat apa yang dialami ayahnya. la lantas membersihkan tanah itu. Rasulullah menghibur putrinya, 'Wahai anakku, janganlah engkau menangis. Sesungguhnya Allah melindungi ayahmu."

Belajar Dari Teman

Oleh. Halimah Taslima *)

Teman merupakan tempat berbagi suka dan suka, adalah merupakan teman yang spesial. Yang biasa disebut dengan sahabat. Biasanya kita tidak akan segan untuk membagi dunia kita kepadanya, tentang apa yang menurut kita indah. Begitu pula saat mendung menerpa hati, maka sahabatlah tempat kita membuang semuanya.

Saat kita bicara teman maupun sahabat, maka yang terlintas di pikiran kita adalah yang baik-baik saja. Karena kita memang punya kecendrungan untuk berkomunikasi mendekatkan hati pada seseorang yang memang “baik”. Kadang bila kita menemukan “kekurangan” atau hal minus pada dirinya, kita akan membuat sebuah penarikan diri atau lebih parah lagi kita akan terikat dengan sebuah pikiran negatif tentang dirinya.

Rasulullah menganjurkan kita untuk memilih teman : “Bila berteman dengan seorang pandai besi. Maka kita akan ikut terbakar. Bila kita berteman dengan seorang penjual minyak wangi maka kita pun akan tertular dengan keharumannya.”

Mungkin makna yang bisa kita petik, bahwa berhati-hatilah dalam membina pertemanan. Karena dengan pertemanan kita pada seseorang, sedikit banyak akan pula mempengaruhi akhlak maupun pola pikir kita tentang hidup ini.

Memperindah Hati

Setiap manusia tentulah sangat menyukai dan merindukan keindahan. Banyak orang yang menganggap keindahan adalah pangkal dari segala puji dan harga. Tidak usah heran kalau banyak orang memburunya. Ada orang yang berani pergi beratus bahkan beribu kilometer semata-mata untuk mencari suasana pemandangan yang indah. Banyak orang rela membuang waktu untuk berlatih mengolah jasmani setiap saat karena sangat ingin memiliki tubuh yang indah. Tak sedikit juga orang berani membelanjakan uangnya berjuta bahkan bermiliar karena sangat rindu memiliki rumah atau kendaraan mewah.

Akan tetapi, apa yang terjadi? Tak jarang kita menyaksikan betapa terhadap orang-orang yang memiliki pakaian dan penampilan yang mahal dan indah, yang datang ternyata bukan penghargaan, melainkan justru penghinaan. Ada juga orang yang memiliki rumah megah dan mewah, tetapi bukannya mendapatkan pujian, melainkan malah cibiran dan cacian. Mengapa keindahan yang tadinya disangka akan mengangkat derajat kemuliaan malah sebaliknya, padahal kunci keindahan yang sesungguhnya adalah jika sesorang merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan sebenarnya.

Rasulullah saw. pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa, dan pangkat. Akan tetapi, demi Allah sampai saat ini tidak pernah berkurang kemuliaannya. Rasulullah saw. tidak menggunakan singgasana dari emas yang gemerlap, atau pun memiliki rumah yang megah dan indah. Akan tetapi, sampai detik ini sama sekali tidak pernah luntur pujian dan penghargaan terhadapnya, bahkan hingga kelak datang akhir zaman. Apakah rahasianya? Ternyata semua itu dikarenakan Rasulullah saw. adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya.

Kisah Anak Beruang (Suka Mencari Kesalahan Orang Lain)

Seekor anak beruang suka mencari-cari kesalahan. Dengan cekatan, ia mampu menunjukkan kesalahan-kesalahan teman-teman & orangtuanya. Bahkan jika sesuatu terjadi pada dirinya, maka ia akan menyalahkan teman-teman & orang tuanya. "Aku jatuh karena ayah meletakkan ember disembarang tempat", kata anak beruang kepada ayahnya saat ia jatuh dikamar mandi. "Kamu mengalami musibah ini karena kamu tidak hati-hati. Oleh karena itu, kalau berjalan harus hati-hati", kata ayah beruang kepada seekor anak beruang yang terkilir kakinya.

Pada suatu hari, anak beruang berjalan-jalan dipinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang sedang mengerumuni sarangnya. "Wahhh..... madu lebah itu pasti sangat manis. Aku akan mengambilnya... Aku akan mengusir lebah-lebah itu!” Ia pun mengambil sebuah galah dan menyodok sarang lebah itu. Ribuan lebah merasa terusik dan akhirnya menyerang anak beruang. Melihat binatang kecil yang begitu banyak, anak beruang itu pun lari terbirit-birit. Lebah-lebah itu tak membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Satu... dua... tiga...., lebah-lebah itu pun menghajarnya dengan sengatan. "Aduh... tolong..!!..” teriak anak beruang.. Byurrr...!! Anak beruang menceburkan dirinya ke sungai. Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pergi meninggalkan anak beruang yang kesakitan. "Mengapa ayah tidak menolongku?“ ”Jika ayah sayang padaku.. pasti sudah berusaha menyelamatkanku... Semua ini salah ayah!!” Ayah beruang terdiam sejenak, lalu mengambil selembar kertas putih. "Anakku... apa yang kamu lihat dari kertas ini??” "Itu hanya selembar kertas putih.. tidak ada gambarnya," jawab anak beruang. Kemudian, ayah beruang mencoret kertas putih dengan sebuah titik berwarna hitam.

"Apa yang kamu lihat dari kertas putih ini??” "Ada gambar titik hitam di kertas putih itu?“ jawab anak beruang.

Jangan Pernah Berputus Asa!

Siapa bilang orang yang cacat tidak mampu mengalahkan orang yang normal. Kebanyakan sih mungkin demikian, namun untuk beberapa kasus, tunggu dulu. Sebut saja Stephen Hawking yang lumpuh total, tetapi cemerlang di Fisika bahkan mampu menandingi Einstein yang spektakuler, dan tokoh-tokoh lainnya.

Kali ini saya hendak membahas seorang manusia yang terkena penyakit cerebral palsy, yakni kelainan otak yang menyebabkan dirinya pincang, tangan kanannya tidak bisa digerakkan dan kalau berbicara tidak jelas dan dari mulutnya selalu keluar air liur (ngiler). Ya, namanya adalah Bill Porter, seorang salesman asal Portland, Oregon, orang yang mengilhami banyak orang khususnya salesman untuk mengikuti jejaknya sebagai salesman yang sukses di Watkins. Anda bisa kunjungi websitenya di sini: Watkins Online untuk mengetahui lebih lanjut mengenai yang bersangkutan.

Disalah satu sesi pelatihan, sang instruktur membagi cerita tentang Bill Porter ini dari potongan DVD yang berjudul Door to Door , untuk menunjukkan bagaimana orang cacat yang sanggup mengalahkan kekurangannya sendiri. Bagaimana ia berusaha mati-matian untuk bisa berjualan, sementara orang lain memandangnya dengan sinis, "bicara aja nggak sanggup kok sekarang mau berjualan!!!"

Mengatasi Kegundahan Hati

Hati adalah kekuatan inti manusia. Dia adalah sekerat daging yang mampu mengalahkan kekuatan jasad seperti yang dikatakan Rasulullah Saw : “Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging, jika ia baik, maka baiklah jasad seluruhnya; jika ia rusak, maka rusaklah jasad seluruhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya posisi hati dalam tubuh manusia, tidak hanya sekedar daging tetapi juga penentu aqidah, penentu budi pekerti dan penentu keputusan terbesar seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits Arbain Nawawiyah bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda “Mintalah fatwamu kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa yang membenarkanmu.” (HR Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darani).

Berdasarkan penjelasan hadits kedua diatas maka tak dapat dipungkiri lagi bahwa hati ibarat petunjuk kebaikan selama hati kita masih suci dan bersih dan juga bisa jadi sebagai petunjuk kejahatan ketika hati kita sudah ternoda dengan dosa dan maksiat. Sebab hati pun memiliki beberapa penggolongan yaitu hati yang bersih atau suci, hati yang sakit dan hati yang jahat dan hanya hati yang bersih yang mampu memberikan petunjuk yang benar. Secara sunnatullah sifat hati selalu berbolak-balik yang mana sesuai sifat dasar manusia yang sering khilaf. Akibatnya hati kadang-kadang menjadi tenang, nyaman, yakin, percaya akan Allah, dan stabil tapi kadang-kadang pula dia menjadi terbalik; menjadi liar, gelisah, gundah, resah, tidak nyaman dan tidak stabil. Inilah kombinasi hati manusia.

Kegundahan hati yang disebabkan oleh problematika hidup yang penuh dengan konflik, persoalan dan tantangan bisa menyebabkan hati kehilangan cahaya-Nya dan nurani kebaikan sehingga perlu segera ditemukan terapinya. Olehnya Allah yang Maha Ar-Rahman dan Ar-Rahim telah memberikan solusi-solusi kegundahan hati dengan obat mujarab yaitu Al-Quran Karim. Salah satu firman-Nya “Inilah adalah Al-Quran yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan seizin Allah menuju jalan Allah yang Maha Perkasa dan Maha Terpuji.” (Qs. Ibrahim: 1).

Banyak ayat-ayat Al-Quran yang dapat dijadikan terapi kegundahan hati, sebagai obat pelipur jiwa dan penenang kalbu, berikut beberapa petikannya :

KENAPA AKU DIUJI?

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) hanya dengan mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (Qs. Al-Ankabut: 2-3)

KENAPA AKU TIDAK MENDAPATKAN APA YANG AKU IDAM-IDAMKAN?

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah : 216)

KENAPA UJIAN SEBERAT INI?

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah ayat 286)

BAGAIMANA MENYIKAPI RASA FRUSTASI?

وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Qs Al-Imran : 139)

SUNGGUH, AKU TAK DAPAT BERTAHAN LAGI…!!!!!

وَلاَ تَيْأَسُواْ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِنَّهُ لاَ يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang yang kafir.” (Qs. Yusuf : 87)

BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPI PERSOALAN HIDUP ?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Qs Al-Imran : 200)

APA SOLUSINYA?

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

”Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Qs. Al-Baqarah : 45-46)

SIAPA YANG MENOLONG DAN MELINDUNGIKU?

حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” (Qs.Ali Imran: 173)

KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?

حَسْبِيَ اللّهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.” (Qs. At-Taubah : 129)

APA BALASAN ATAU HIKMAH DARI SEMUA INI?

إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (Qs. At-Taubah : 111)

Dan ketahuilah Allah mengabarkan kepada hamba-Nya bahwa golongan yang mendapatkan kecintaan-Nya adalah orang-orang yang sabar terhadap ujian dan cobaan dari-Nya.