Senin, 30 November 2009

Haruskah Kita Pacaran?


Oleh. Rio Efendi Turipno, S.Psi

Pacaran! sudah tradisi…
Begitulah tanggapan remaja masa kini, seperti slogan dari salah satu iklan ditelevisi. Budaya ini sudah menjadi kebiasaan baru yang menggeser pola pergaulan sebelumnya. Hampir semua orang melakukannya, karena mereka menganggap pacaran sebagai sesuatu yang lazim untuk dipraktekkan. Kita dengan mudah menjumpai kenyataan tersebut. Dirumah, di sekolahan, di supermarket, di kampus, di pantai, bahkan ditempat yang sepi pun, tidak sulit menemukan sepasang kekasih. Mereka menganggap merekalah sepasang kekasi Si Romeo ‘en Juliet. Sungguh sangat romantis.

Tidak ketinggalan pula mereka yang sudah menikah alias yang sudah punya istri atau suami, turut ambil bagian dalam meramaikan budaya ini. Istilah “hugel” pun kini sudah tidak lagi diartikan sebagai hubungan gelap. Karena dewasa ini ‘pelaku hugel’, sudah terang-terangan tidak lagi sembunyi-sembunyi. Sehingga istilah hugel yang merupakan istilah orang Manado kini lebih cocok diartikan sebagai ‘hubungan geli-gelian’ daripada ‘hubungan gelap’.


Para remaja saat ini sudah memiliki gaya tersendiri dalam berpacaran. Kemahiran mereka dalam berpacaran bukan diperoleh dari pendidikan formal seperti sekolah atau pendidikan non formal, seperti kursus-kursus. Semuanya itu sepertinya terjadi secara alami. Jurus pamungkas ‘rayuan gombal’ yang katanya sih, sering digunakan oleh laki-laki. Itupun tidak mereka peroleh dalam perguruan-perguruan ilmu bela diri maupun perguruan tinggi. Sepertinya jurus-jurus tersebut dipelajari dari teman ke teman. Karena biasanya remaja akan meraka bangga apabila dia dapat menaklukan para wanita. Keberhasilannya ini pun dengan segera ia akan menceritakan ke teman-temannya. Dan bagi mereka yang belum pernah berpacaran, biasanya tak sungkan-sungkan diberi perdikat atau anugerah yang unik dari teman-temannya, misalnya kuper (kurang pergaulan), nggak gaul, kolot, dll.

Hal ini terjadi dikarenakan beberapa mitos yang telah meracuni pikiran para generasi muda kita, sehingga mengharuskan mereka untuk pacaran. Antara lain:

Pacaran adalah Cinta ?

Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda terutama remaja yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab cinta yang suci tidak akan mungkin dilumuri dengan napsu birahi, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan janji bertemu langsung, jalan-jalan, berduaan, pegang-pegangan, serta peluk-pelukan, dll.

Semua bentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada ketentuan tentang kesetiaan dan seterusnya.

Padahal cinta itu memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.

Pacaran adalah Masa Penjajakan atau Perkenalan ?

Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajakan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran yang sesungguhnya apabila data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan itu kita peroleh dari dirinya sendiri. Ini terbukti sebagaian besar pasangan (pacar) kita, lebih banyak menutupi sifat aslinya tatkala berada di depan kekasihnya.

Maka tidak mengherankan jika kita sering menemukan perlakuan yang berbeda dari sang pacar, disaat masih berpacaran dan sesudah menikah. Sehingga pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya sebuah penyesatan dan pengelabuhan.

Padahal dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda: ”Wanita itu dinikahi karena 4 hal: [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari dalam Kitabun Nikah Bab Al-Akfa’ fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha’ Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)

Selain keempat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.

Hati-Hati Virus CBSA

Selain itu Permasalahan yang sampai sekarang tak kunjung selesai adalah pembahasan tentang pacaran. Bisa dikata hampir semua Organisasi Islam menolak pacaran itu. Kajian-kajian keislaman, seminar-seminar, training-training, tatkala membahas tentang pacaran, semuanya memiliki suara yang sama dan bulat “No time for love” (tidak ada waktu untuk bercinta). Tidak ketinggalan kakak-kakak instruktur yang ada dalam training pun selalu menyampaikan kepada adik-adik “Pacaran itu Haram”.

Namun kenyataannya tidak sedikit juga dalam sebuah oraganisasi kita menemukan kisah percintaan antara sesam aktivis Dakwah. Hal ini menunjukkan bahwa Virus Pacaran ternyata juga tidak hanya menular dikalangan mereka yang belum paham Islam atau yang tidak mau paham dengan ajaran Islam. Melainkan juga menulari para aktivis. Inilah yang diistilahkan dengan ‘Virus CBSA’ (Cinta Bersemi Sesama Aktivis) oleh kak. Syarifuddin Saafa dalam bukunya “Menyingkap Rahasia Pacaran”.

Satu hal yang menarik, kalau kepergok lagi dua-duaan atau lagi jalan bareng, pasti argumentasi pembelaan diri akan disampaikannya. Salah satunya untuk kepentingan ‘dakwah’. Akhirnya dakwah dijadikan kambing hitam untuk melegitimasi virus tersebut. Inilah yang biasa disebut dengan istilah “pintar-pintar jatuh”. Oleh karena itu kenapa dakwah kita terkadang kurang berhasil ditengah-tengah masyarakat, karena kita hanya mampu mengatakannya, tapi untuk melaksanakannya hanya sedikit yang bisa. Sehingga pada akhirnya kita tidak mampu menjadi ‘Uswatun khasanah’. Allah Swt berfirman: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”(Qs. Ash-Shaff : 3)


Pacaran Dalam Kacamata Islam

Jika melihat Potret Generasi Muda masa kini menunjukkan pacaran di zaman sekarang telah menjadi gejala. Barangkali fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh kisah-kisah percintaan dalam roman, novel, film dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga percintaan, kisah-kisah asmara, harus ada pasangan tetap sebagai tempat untuk bertukar cerita dan berbagi rasa.

Bagaimana pun mereka yang berpacaran, jika kebebasan pergaulan antara yang bukan mahramnya tidak bisa dihindari atau semakin mengejolak, maka ulama sepakat bahwa pacaran model begini adalah kedzaliman atas amanah orang tua.

Selain itu secara sosio kultural di kalangan masyarakat agamis, pacaran akan mengundang fitnah, bahkan tergolong naif. Mau tidak mau, orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan ke-Islam-an dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan akhlak. Na’udzubillah min dzalik!

Sudah banyak gambaran kehancuran moral akibat pacaran, atau pergaulan bebas yang telah terjadi akibat science dan peradaban modern (westernisasi). Islam sendiri sebagai penyempurnaan dien-dien tidak kalah canggihnya memberi penjelasan mengenai berpacaran. Pacaran menurut Islam diidentikkan sebagai apa yang dilontarkan Rasulullah SAW : "Apabila seorang di antara kamu meminang seorang wanita, andaikata dia dapat melihat wanita yang akan dipinangnya, maka lihatlah." (HR Ahmad dan Abu Daud).

Namun Islam juga, jelas-jelas menyatakan bahwa berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Setiap orang yang berpacaran cenderung untuk bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas pelanggaran syari’at ! Terhadap larangan melihat atau bergaul bukan muhrim atau bukan istrinya. Sebagaimana yang tercantum dalam HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas yang artinya: "Janganlah salah seorang di antara kamu bersepi-sepi (berkhalwat) dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan muhrimnya." Tabrani dan Al-Hakim dari Hudzaifah juga meriwayatkan dalam hadits yang lain: "Lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barang siapa meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati."

Yang perlu di ingat bahwa jodoh merupakan QADLA' (ketentuan) Allah, dimana manusia tidak punya andil menentukan sama sekali, manusia hanya dapat berusaha mencari jodoh yang baik menurut Islam. Tercantum dalam Al Qur'an: "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)."

1 komentar:

  1. ass..

    hmm.. menurut aku benar kak..

    cuma sulit untuk diaplikasikan ..

    mungkin kita harus menciptakan kondisi yang seperti itu...

    biar bisa fokus.....

    gitu aja kak..

    Wlkmslm......

    BalasHapus