Kamis, 28 Oktober 2010

Sumpah! Pemuda Harus bangkit


“Wahai para pemuda, kerahkan potensi dirimu selagi masih muda karena belum pernah aku lihat karya yang paling berharga selain yang dilakukan oleh para generasi muda”. (Ibnul Jauzy, Shifatush Shofwah, Jil. IV, hlm. 24).

Pemuda dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah tiang masa depan yang amat potensial. Mereka adalah kekuatan yang memotori kemajuan bagi peradaban manusia, sebab energi dari pemuda maha kuat pancarannya di tengah-tengah dunia. Karenanya masa muda adalah masa yang paling produktif.

Mengingat pentingnya arti masa muda inilah, maka tidak mengherankan bila seluruh perhatian terkonsentrasi pada pergerakan destruktif atau organisasi-organisasi di dunia untuk mengeksploitasinya. Sebab setiap perubahan yang terjadi pada kalangan pemuda adalah perubahan pula bagi bangsa dan peradabannya. Sebagai contoh; revolusi Perancis yang menumbangkan kekuasaan monarki digerakan oleh para pemuda. Perjuangan pro demokrasi di RRC dan Burma juga digerakkan oleh para pemuda. Medan Tiananmen di Beijing, Cina boleh menjadi saksi bagaimana keberanian pemuda-pemudi menyongsong desingan peluru demi cita-cita demokrasi yang didambakannya. Bahkan foto yang merekam keberanian seorang pemuda pro-demokrasi menyongsong iringan tank baja menjadi foto jurnalistik terbaik dunia pada waktu itu. Para pengikut setia Lenin dan Stalin di awal kemenangan komunis di Uni Soviet kebanyakannya adalah para pemuda. Pemuda Michail Gorbacev ketika berusia 18 tahun menulis, “Lenin adalah ayahku, guruku dan Tuhanku”.

Perubahan yang di maksud juga pernah terjadi pada zaman Rasulullah Saw, dimana beliau lebih memusatkan dakwahnya kepada pemuda dari usia 8 hingga 40 tahun. Sehingga Rasulullah Saw pun bersabda, “Perjuanganku didukung oleh pemuda, oleh sebab itu wasiat yang baik untuk mereka”.

Rabu, 27 Oktober 2010

Marilah, Bertutur Kata Yang Baik

Saat ini semakin maju zaman, semakin manusia menjauh dari akhlaq yang mulia. Begitu banyak nilai-nilai dalam Islam yang pada hari ini semakin terasa asing bila diterapkan dalam kehidupan kita. Perangai jahiliyah dan kekasaran dalam ucapan dan prilaku masih saja meliputi sebagian kaum muslimin. Padahal akhlaq yang diajarkan dalam Islam inilah membuat semakin banyak orang tertarik pada Islam dan dapat dengan mudah menerima ajaran Islam, Tetapi sayang, jangankan untuk berbuat baik kepada orang lain, memberikan salam dan bertutur kata yang baik kepada sesama muslim saja begitu sulit.
Apakah mereka lupa, bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala, telah memerintahkan kita berlaku lemah lebut (rendah hati)? Perhatikanlah firman Allah dibawah ini:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. ” (Qs. Al Hijr: 88)
Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengatakan, “(Berendah dirilah) yang dimaksud dalam ayat ini hanya untuk mengungkapkan agar seseorang berlaku lemah lembut dan tawadhu' (rendah diri).”[1] Jadi sebenarnya ayat ini berlaku umum untuk setiap perkataan dan perbuatan, yaitu kita diperintahkan untuk berlaku lemah lembut. Ayat ini sama maknanya dengan firman Allah Ta'ala berikut,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ الله لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ القلب لاَنْفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159).

Yang dimaksud dengan bersikap keras di sini adalah bertutur kata kasar.[2] Dengan sikap seperti itu malah membuat orang lain akan lari dan menjauh dari kita. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Berlaku lemah lembut inilah akhlaq Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam yang di mana beliau diutus dengan membawa akhlaq yang mulia ini.” [3]

Dahsyatnya, Menebarkan Salam

Mengucapkan salam kepada sesama muslim kini perlahan-lahan mulai hilang dari kebiasaan kita. Padahal sesuatu yang terkadang dianggap sepele, namun sesungguhnya memiliki dampak yang luar biasa dalam kehidupan kita. Jikapun mampu diterapkan, itu hanya sebatas terucapkan pada orang-orang yang kita kenal. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ أَيُّ اْلإِسْلاَمِ خَيْرٌ، قَالَ: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
“Dari Abdullah bin Umar ra, dia berkata: “Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, manakah ajaran Islam yang lebih baik?” Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah engkau memberi makanan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.[1]
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُسَلِّمَ الرَّجُلُ عَلَى الرَّجُلِ لَا يُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلَّا لِلْمَعْرِفَةِ
“Dari Ibn. Mas’ud ra, berkata: bahwa Rasulullah Saw, bersabda: "Tanda-tanda hari itu (kiamat) Seorang lelaki mengucapkan salam kepada lelaki lainnya dan dia tidak mengucapkan salam tersebut kecuali karena ia mengenalnya" [2]
Padahal yang paling pertama memerintahkan salam adalah Allah Yang Maha Tinggi, di mana Allah memerintahkan Adam as, untuk mengucapkannya kepada para malaikat.
إِنَّ اللهَ لَمَّا خَلَقَ آدَمَ قَالَ اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلىَ أُلئِكَ اْلمَلاَئِكَةِ فَاسْتَمِعْ مَايُجِيْبُوْنَكَ تَحِيَتُكَ وَتَحِيَّة ذُرِّيَتِكَ فَقَالَ َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ, فَقَالُوْا: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ َوبَرَكَاتُهُ
"Sesungguhnya Allah Ta'ala saat setelah menciptakan Adam alahis salam, Dia berfirman kepada Adam: "Pergilah dan ucapkanlah salam kepada para malaikat ini dan dengarkanlah dengan apakah mereka menjawabmu, sebagai ucapan penghormatan bagimu dan bagi keturunanmu". Lalu Adam berkata: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ  mereka menegaskan: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ َوبَرَكَاتُهُ…” [3]
Mungkin banyak dari kita yang lebih akrab dengan ucapan “Selamat pagi, selamat siang, ataupun selamat malam”. Apalagi kalau ketemu dengan saudara-saudara seaqidah (sesama muslim), baik disekolah maupun dikantor, rasanya lebih enak mengucapkan “selamat pagi atau selamat siang, dsb”. Padahal ucapan-ucapan tersebut jauh dan kering dari semangat persaudaraan jika dibandingkan dengan ucapan salam dalam Islam, yakni:
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ َوبَرَكَاتُهُ
”Semoga keselamatan, dan rahmat Allah serta  berkah-Nya selalu menyertai kamu sekalian”

Minggu, 24 Oktober 2010

Mempertahankan Kemuliaan Manusia

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

(1). Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Tinggi, (2). Yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), (3). Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, (4). Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, (5). Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman. (Qs. Al-Alaq ayat 1-5)

Pada wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, Allah subhanahu wa ta’ala memperkenalkan diri-Nya dengan sebutan “al-Khaliq” (Pencipta). Sedangkan yang selain Dia disebut “makhluq”, (yang dicipta). Kedua kata, khaliq dan makhluq berakar dari kata kerja kha-la-qa, yang mempunyai dua bentuk masdar (asal kata), yaitu khalqan dan khuluqan. Khalqan bermakna penciptaan yang bersifat fisik, Sedangkan khuluqan adalah penciptaan yang bersifat kejiwaan atau ruhiyah. Kata khuluqan itulah yang kemudian dapat dikembangkan menjadi khuluq atau dalam bentuk jamaknya akhlaq, sebagaimana yang banyak dikenal dalam khazanah Islam.

Tujuan Penciptaan Manusia


Manusia menurut Nurcholish Madjid memang merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang mengagumkan dan penuh misteri. Dia tersusun dari perpaduan dua unsur; segenggam tanah bumi, dan ruh Allah, maka siapa yang hanya mengenal aspek tanahnya dan melalaikan aspek tiupan ruh Allah, maka dia tidak akan mengenal lebih jauh hakikat manusia. Al-Qur'an sendiri juga menyatakan bahwa manusia memang merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Ada banyak sekali kelebihan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk-makhluk-Nya yang lain. Ada beberapa “perangkat” yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada manusia yang menjadikannya unggul dan terdepan dari para makhluk lainnya seperti; memiliki daya tubuh yang membuat fisiknya kuat; daya hidup yang membuatnya mampu mengembangkan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan serta mempertahankan diri menghadapi tantangan; daya akal yang membuatnya memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi; daya kalbu yang memungkinkannya bermoral, merasakan keindahan, kelezatan iman, dan kehadiran Allah. 

Oleh karena itu, manusia perlu menyadari eksistensi dan tujuan penciptaan dirinya, memahami risalah hidupnya selaku pengemban amanah Allah, melalui arahan dan bimbingan yang berkesinambungan agar kehidupannya menjadi lebih berarti. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya segala sesuatu diciptakan dengan adanya satu tujuan. Dengan tujuan itulah kemudian sesuatu difungsikan dan dengan adanya fungsi itulah maka keberadaan sesuatu menjadi berarti. Demikian juga adanya manusia di bumi ini. Ia pasti diciptakan untuk satu tujuan tertentu. 

Tulisan ini mencoba untuk membahas tujuan penciptaan manusia sebagaimana yang ada di dalam penghambaan dirinya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Dalam pembahasan ini penulis menfokuskan pada dua ayat yang secara eksplisit menunjukkan tujuan Allah Subhanahu wa ta’ala  dalam penciptaan manusia yaitu dalam surah al-Dzaariyaat ayat 56 dan al-Baqarah ayat: 30. Pembahasan dalam tulisan ini lebih bercorak pada penafsiran tematis ilmiah karena penulis juga mencoba menghubungkan bahasan dalam makalah ini dengan penemuan ilmiah terkini.