Minggu, 22 November 2009

Idul Adha, 27 November 2009

NU dan Muhammadiyah sambut baik tak ada perbedaan dalam penetapan Idul Adha

JAKARTA -- Pemerintah menetapkan perayaan Idul Adha 1430 Hijriyah pada Jumat, 27 November 2009. Sebab, berdasarkan hasil hisab dan rukyat, 1 Zulhijjah jatuh pada 18 November 2009. Tak ada perbedaan perayaan Idul Adha yang dilakukan umat Islam di Tanah Air.

''Pada sidang itsbat Hari Raya Idul Adha tahun ini, semua pihak baik ahli hisab maupun rukyat sepakat bahwa awal Zulhijjah 1430 bertepatan dengan 18 November 2009,'' kata Dirjen Bimas Islam, Depag, Nasaruddin Umar, dalam sidang itsbat di Jakarta, Rabu (18/11).


Sidang itsbat yang dipimpin oleh Nasaruddin tersebut dihadiri oleh Ketua Komisi Fatwa MUI Anwar Ibrahim, Dirjen Peradilan Agama Mahkamah Agung Wahyu Widianan, dan sejumlah pengurus ormas Islam, seperti Lajnah Falakiyah NU, Muhammadiyah, DDII, Persis, Al-Irsyad, dan Al-Washliyah.

Menurut Nasaruddin, pemerintah bersyukur karena penetapan awal Syawal dan Idul Adha 1430 Hijriyah ini tak ada perbedaan antara pemerintah dan ormas Islam. Kemungkinan besar hal ini juga terjadi pada 2010 mendatang. Pada 2011, mungkin bisa lain sebab ketinggian hilal rendah.

Pada Selasa (17/11) yang bertepatan dengan akhir bulan Zulkaidah, Badan Hisab dan Rukyat Depag melakukan rukyatul hilal atau peneropongan bulan baru di beberapa titik. Hasil rukyat tersebut menunjukkan bahwa posisi hilal berada di atas ufuk.

Selain berdasarkan rukyat, penentuan awal Zulhijjah dan Hari Raya Idul Adha itu juga sesuai dengan penanggalan sejumlah ormas Islam di Indonesia, seperti Lajnah Falakiyah NU, Muhammaditah, Al-Irsyad, Persis, dan DDII.

Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, Ahmad Ghazalie Masroeri, juga menyatakan berdasarkan rukyat yang dilakukan pihaknya, hilal terlihat pada 17 November. Jadi, PBNU menetapkan Idul Adha pada Jumat, 27 November 2009. Sebelumnya, Muhammadiyah telah menetapkan pada hari yang sama. Sementara itu, Ketua Mahkamah Agung Arab Saudi, Abdul Rahman Al-Keyla, seperti dikutip Arabnews, mengatakan pula bahwa Idul Adha di Arab Saudi jatuh pada 27 November 2009. ''Dengan demikian, wukuf jamaah haji di Arafah jatuh pada Kamis, 26 November 2009,'' katanya.

Al-Keyla mengatakan, sejumlah orang telah menyaksikan hilal yang menjadi penanda masuknya bulan baru pada Selasa petang. Ini berarti, jelas dia, Rabu, 18 November 2009, menjadi hari pertama bulan baru, yaitu Zulhijjah.

Sambut baik
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Yunahar Ilyas, mengatakan, pihaknya sangat bersyukur akhirnya Muhammadiyah, NU, dan pemerintah memutuskan Hari Raya Idul Adha pada hari yang sama. ''Kami bersyukur bisa merayakan Idul Adha pada hari yang sama.''

Namun, ujar Yunahar, masalah bisa terjadi seandainya Arab Saudi melaksanakan Idul Adha pada hari yang berbeda. Pasalnya, masyarakat awam sering kebingungan dalam melaksanakan ibadah puasa Arafah sebelum Idul Adha.

Masyarakat, kata Yunahar, sering berpatokan terhadap Arab Saudi saat melaksanakan ibadah puasa Arafah. Padahal, menurut waktu di Indonesia, puasa Arafah seharusnya dilaksanakan pada 26 November yang bertepatan dengan tanggal 9 Zulhijjah. Oleh karena itu, jelas Yunahar, ia menyarankan agar masyarakat menggunakan patokan waktu Indonesia dalam puasa Arafah. Sebab, mereka tinggal di Indonesia.

Ketua PBNU, Masykuri Abdillah, juga menyambut baik. Dengan demikian, kata dia, ormas-ormas Islam dan pemerintah tampak bersatu.Walaupun, jika perayaan Idul Adha berbeda juga bukanlah hal yang buruk. ''Sebab, setiap pihak memiliki prinsip masing-masing,'' katanya.

Namun, kata Masykuri, pihaknya selalu berusaha menjaga berbagai macam persamaan. Sebab, semakin banyak persamaan itu baik. damanhuri/meta/lilis ed:ferry

Tidak ada komentar:

Posting Komentar