Minggu, 31 Oktober 2010

Menanti Pahlawan Masa Kini


Bangsa ini menyadari bahwa di atas kemerdekaan bangsa, tulang rapuh para pahlawan telah menjadi tiang penyangga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti kata orang bijak, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Namun memperingati pahlawan hanya sebatas mengenang kisah patriotisme pahlawan, maka kita bisa jatuh ke dalam romantisme pahlawan. Yang jauh lebih penting sebenarnya adalah bagaimana kisah heroik para pahlawan menjadi sumber inspirasi generasi berikutnya.
Menjadi Pahlawan
Menjadi pahlawan saat sekarang pastilah tidak harus cakap menggunakan bambu runcing, tombak dan bayonet seperti pahlawan tempo dulu. Bukan saja musuh yang dihadapi saat ini tidak berwujud bagai tentara-tentara negara imperalis yang tidak berprikemanusiaan dan keadilan. Musuh kita saat ini adalah kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, kenestapaan dan penindasan yang masih menjadi warisan abadi pasca era kolonial berakhir. Indonesia modern membutuhkan pahlawan pahlawan bangsa yang tidak lagi berperang dengan bambu runcing. Bukan juga pahlawan yang siap mati konyol hanya demi sebuah ideologi perjuangan. Apalagi pahlawan yang hanya pintar beretorika, namun nihil dalam tindakan. Akan tetapi, pahlawan yang beikhtiar dengan sungguh-sungguh melepaskan Indonesia dari berbagai keterpurukan dan sukses membawa bangsa ini menjadi negara yang memiliki harkat serta martabat di mata seluruh negara di dunia. Itulah pahlawan masa depan. Dialah pahlawan yang kita nanti-nantikan.
Dibutuhkan pahlawan yang berani mengungkap skandal korupsi tanpa tebang pilih dan pilih-pilih buku pada seluruh lapisan birokrasi pemerintah dan peradilan di negeri ini. Dibutuhkan pahlawan yang berani membongkar kecurangan pada setiap proyek pembangunan yang konon selalu di mark up 45 % dari biaya proyek sebenarnya. Dibutuhkan pahlawan antikorupsi, kolusi dan nepotisme. Sudah sewajarnya negara membuka akses- akses supaya pahlawan ini segera muncul bak cendawan di musim hujan. Namun kenyataanya, negara lebih senang membuka nostalgia masa lalu ketika Hari Pahlawan menjelang. Miliaran dana dihabiskan demi menapak tilasi berbagai kisah heroik para pahlawan bangsa ketika merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Ya, setiap tahun negeri ini merayakan Hari Pahlawan tanpa visi pahlawan masa kini. Lihatlah para pahlawan masa kini seperti yang disebut di atas tidak pernah mengharapkan penghargaan. Dan banyak dari anak bangsa negeri ini yang seharusnya mendapat predikat pahlawan masa kini, ternyata dipecat dari instansinya, diberangus aktivitas politiknya, dibungkam kritiknya, bahkan ada yang dihabisi akibat keberaniannya mengungkap kebenaran.
Pahlawan Masa Kini
Bangsa Indonesia kaya dengan pahlawan masa lampau, tetapi miskin pahlawan masa kini. Setiap tahun pemerintah tidak pernah kehabisan stok untuk mengangkat tokoh masa lalu menjadi pahlawan nasional, sementara itu tidak satu pun putra bangsa saat ini dilirik untuk dijadikan pahlawan masa kini. Apakah di antara putra bangsa ini tidak ada yang pantas menyandang predikat pahlawan antikorupsi? Apakah tidak ada di antara para TKI yang patut disematkan lencana kepahlawanan? Apakah Munir tidak cocok dianggap sebagai pahlawan kebenaran? Krisis multidimensi yang belum berakhir sebenarnya merupakan lahan subur lahirnya pahlawan masa kini. Pahlawan adalah sosok yang berjuang tanpa pamrih  dalam berbagai bidang demi kepentingan banga dan tanah airnya. Memang mengharapkan dari birokrasi dan legislatif  kita lahir pahlawan masa kini adalah sesuatu yang mustahil.
Birokrasi dan legislatif dipenuhi orang-orang yang tidak punya semangat berprestasi demi kemajuan bangsa. Kebanyakan para aparat di birokrasi masih beranggapan rakyat bukan untuk dilayani namun dijadikan santapan demi menggemukkan pundi-pundi mereka. Di mata rakyat aparat malah sering diplesetkan menjadi keparat ketimbang abdi rakyat gara-gara ulah oknumnya. Walau begitu, kita optimis  di satu waktu nanti akan tampil juga pahlawan yang mampu memotong carut marut lini birokrasi yang memusingkan rakyat, pahlawan yang anti KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), pahlawan yang selalu menggunakan pedang keadilan tanpa pandang bulu ketika memutuskan perkara, dan pahlawan yang mampu mengeluarkan bangsa ini dari berbagai krisis yang melanda.
Reformasi yang banyak didengungkan oleh para pemuda agaknya belum menyentuh seluruh lini pemerintahan hingga kini. Pemerintahan yang baru hanya sekedar berganti kepala tanpa berganti kebobrokan yang ada di dalamnya pemerataan ekonomi, pendidikan, dan kedudukan dalam hukum masih kalah jauh dibandingkan tingkat pemerataan korupsi yang awalnya berpusat di keluarga Cendana dan kroni dekatnya menjadi ke seluruh ‘cendana-cendana’ daerah. Pengerukan kekayaan alam oleh asing tetap saja dominan terjadi.
Kini 102 tahun telah berlalu sejak cita-cita kebangkitan nasional dimulai lewat Boedi Oetomo (1908). Keadaan Negeri yang disebut-sebut sebagai ‘zamrud khatulistiwa’ ini kian carut marut. Anak-anak negeri bertelanjang kaki mencari bongkahan emas negeri untuk diserahkan kepada perusahaan asing demi sesuap nasi. Pembodohan moral mewarnai televisi dan layar lebar negeri. Program WAJAR (wajib belajar) semakin hari rasanya berubah menjadi WAYAR (wajib membayar) akibat tingginya biaya pendidikan. Para pejabat berebut momen untuk mencari popularitas dengan ‘membuat album lagu’, menonton AAC, dan yang lebih parahnya lagi sampai ‘kencan’ dengan pemain dangdut. Para artis yang merasa lahan kerjanya diambilpun tak mau kalah dengan mencoba muncul dalam kancah dunia perpolitikan. Melihat keadaan seperti ini sepertinya tak banyak pemuda yang tergerak hatinya untuk memperbaiki keadaan bangsanya. Para pemuda sepertinya sedang memperebutkan sekoin perak dalam istana yang terbuat dari emas dengan memperebutkan gaji besar di perusahaan asing yang mengeruk kekayaan rumahnya sendiri. Pemikiran yang banyak berkembang hanya berpusat pada diri tanpa peduli pada negeri, sehingga membuat gerakan yang ada hanya bersifat parsial.
Jika keadaan ini berjalan terus menerus bukan tidak mungkin 10 tahun lagi Indonesia akan menjadi negeri yang sempurna dikuasai oleh asing dan hanya mampu menjadi kuli di rumah sendiri. Negeri ini akan seperti pengemis yang tidak sadar bahwa mangkuk yang ia gunakan terbuat dari emas. Agar semua itu tidak terjadi maka negeri ini harus benar-benar bangkit melalui pemudanya. Bukan sebagai pemuda Jawa, Sumatra, Kalimantan, Papua, ataupun Sulawesi, tapi bangkit sebagai pemuda Indonesia. Seluruh pemuda tanah air haruslah bersatu dengan memindahkan kerangka berfikir yang berpusat pada diri menjadi berpusat pada negeri, agar negeri ini menjadi negeri yang sejahtera sesuai dengan kekayaan yang terkandung di dalamnya, agar negeri ini menjadi negeri yang besar sebesar jiwanya, serta agar negeri ini menjadi negeri yang maju beriringan dengan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bukankah Indonesia yang turut membantu melunasi hutang Belanda saat ia kalah pada perang dunia kedua? Bukankah Indonesia yang mempunyai garis pantai terpanjang di dunia? Bukankah Indonesia yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah dibandingkan negeri lain? bukankah Indonesia yang menjadi juara dunia saat Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) berhasil menjuarai International Physics Olympiad 2006 (IPhO 2006) di Singapura? Lantas tunggu apa lagi?.
Nasib bangsa ini ditentukan oleh dengus nafas kita sendiri dalam merebut kehidupan yang lebih sempurna. Kita semua pengisi kemerdekaan, berkewajiban bertindak berani tapi terkendali, cepat tetapi tepat, total tetapi tidak brutal, agar menjadi teladan, hingga terpahat di dinding hati para penerus kita di masa depan nanti, sebagai pahlawan sejati. Kita berharap saja, semoga lahir pahlawan-pahlawan masa kini. Pahlawan yang tidak hanya pandai bersilat lidah, dan pandai bermain kata-kata.




1 komentar:

  1. Pahlawan bukanlah orang yang turun dari langit lantas melakukan perbuatan-perbuatan besar, pahlawan adalah jiwa sederhana yang tulus dalam pengabdian, tanpa pamrih, dan siap berbuat yang terbaik bagi sesama tanpa berharap popularitas dan keuntungan pragmatis. (Silaturrahmi Pak ...)

    BalasHapus