Sabtu, 09 Oktober 2010

Apakah Kita Tergolong Orang Yang Memuliakan Al-Qur'an?


Beberapa waktu lalu di Kota Bitung (Sulawesi Utara) digemparkan dengan sebuah informasi yang datang dari seorang siswa bahwa Kak Rio membolehkan menginjak-injak mushaf Al-Qur'an, serentak tanggapan pun bermunculan dimana-mana. Padahal apa yang diberitakan oleh salah seorang siswa, itu belum tentu benar kejadiannya. Dan tidak ada satu pun yang melakukan cross check (tabayyun) kepada yang bersangkutan untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya, Namun hanya seorang mualaf yang hatinya terpanggil untuk melakukan tabayyun dengan Kak Rio.

Belakangan ini memang terlalu gampang orang atau suatu kelompok berprasangka negatif terhadap kelompok lain, atau menuduh sesat golongan lain, dan kadang disertai hujatan, penghakiman secara sepihak, dan sebagainya. Berprasangka tanpa meneliti duduk perkaranya, adalah sikap apriori atau masa bodoh yang hanya berdasar pada sangkaan-sangkaan negatif atau isu-isu yang beredar atau bisikan orang lain. Sikap demikian adalah bertentangan dengan Al-Qur'an, karena Allah SWT telah memerintahkan kita untuk bertabayyun.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan sebenarnya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS al-Hujuraat [49]: 6)

Rasulullah Saw juga bersabda:

اَلتَّبَيُّنُ مِنَ اللهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
"Pembuktian itu berasal dari Allah, sedangkan ketergesa-gesaan itu berasal dari Syaithan." (HR. At-Thabari).


Oleh karena itu disinilah saya sebagai Kak Rio akan menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi (dengan sedikit perubahan bahasa dari bahasa daerah (Manado) ke bahasa Indonesia). 

Peristiwa ini bisa dikatakan sudah cukup lama terjadi. Dimana seorang siswa SMK Muhammadiyah Bitung bertanya tentang Apakah Al-Qur'an bisa diinjak-injak? (yang dimaksudkan oleh siswa tersebut adalah mushaf).

Sebelum menjawab Kak Rio (panggilan akrab dari guru tersebut), memberikan ilustrasi pertanyaan. "Apakah bisa seorang anak masuk kedalam masjid lewat jendela yang terbuka?". serentak mereka pun menjawab "bisa".

Kak Rio kembali bertanya: "Kenapa bisa?"

"Karena pintu Jendelanya terbuka" jawab siswa-siswa pada waktu itu

"Nah kalo begitu mushaf Al-Qur'an apakah bisa di banting, diinjak atau dibakar?" tanya kembali Kak Rio

Dengan suara pelan (mungkin takut salah), sebagian siswa menjawab "tidak bisa" dan beberapa diantaranya menjawab "bisa"


Kak Rio kembali bertanya: "Kenapa bisa dan kenapa tidakl bisa?"

Semuanya pun diam (mungkin karena takut jangan sampai salah memberikan jawaban). Nah disinilah kemudian Kak Rio memberikan penjelasan kepada siswa-siswanya.

"Jika yang ditanya adalah bisa atau tidak maka jawabannya adalah bisa! mushaf Al-Qur'an bisa diinjak, mushaf Al-Qur'an bisa dibanting dan mushaf Al-Qur'an bisa di bakar...!"

"Kenapa?" Lanjut Kak Rio: "Karena mushaf Al-Qur'an terbuat dari kertas dan dia benda mati yang bisa dibanting, yang bisa diinjak dan bisa dibakar."

Kak Rio juga menambahkan kepada murid-muridnya: "Tetapi, kalau yang ditanya adalah apakah al-Qur'an yang sesungguhnya bisa dibakar atau di injak, maka jawabannya adalah tidak bisa, karena Al-Qur'an yang sesungguhnya tidak ada di muka bumi tapi tempatnya di Lauhul Mahfudz dan Al-Qur'an yang sesungguhnya bukan makhluk (benda), melainkan Qalam Allah (perkataan Allah). Yang kita pegang dan baca saat ini adalah tulisan dari Qalam Allah yang di bukukan, yang kemudian disebut dengan Mushaf Al-Qur'an"

"Pak...! Bukankah membakar atau menginjak mushaf Al-Qur'an itu berdosa?" tanya seorang siswa

Jawab Kak Rio: "Nah kalau berbicara masalah adab, maka kita harus memperlakukan Mushaf al-Qur'an dengan baik. Karena tidak etis jika kita memperlakukan mushaf al-Qur'an seperti tadi, sekalipun itu hanya mushafnya."

"Namun ironisnya adalah ketika kita menentang orang yang menghina Al-Qur'an dengan membakarnya dan menginjak-injaknya, sementara kita sendiri ternyata masih banyak yang menentang dan menghina Al-Qur’an. Faktanya, kita beriman pada Al-Qur'an tapi tidak menjalankan perintah yang ada di dalam Al-Qur'an". Lanjut Kak Rio


Ayo jawab dengan jujur.....! Siapa yang shalatnya masih bolong-bolong? Siapa yang masih banyak berbuat maksiat dan Kaum wanita siapa yang masih tidak menutup aurat?" tanya Kak Rio tersebut kepada Murid-muridnya.

(Murid-murid pun diam).

"Inilah yang disebut dengan menginjak-nginjak Al-Qur'an. Untuk apa kita tiap hari mencium mushafnya, membersihkannya dari debu, dan meletakkannya ditempat yang tinggi, sementara kedudukan Al-Qur’an sebagai sumber dari segala sumber hukum, menjiwai seluruh keyakinan umat, pandangan hidup dan yang harus menjadi standar dalam pemikiran dan prilaku nampaknya masih jauh dari harapan". Jelas Kak Rio.

Dengan suara lantang kak Rio pun mengingatkan siswa-siswanya:

"Ingat....!  Allah tidak butuh kita mencium Kitab al-Qur'an setiap hari !
Allah juga tidak butuh kita memeluk-meluk Kitab Al-Qur'an setiap hari !
Dan Allah tidak butuh kita membersihkan Kitab Al-Qur'an setiap hari. !"
Sementara perintah Allah didalamnya kita abaikan!

Apakah ini orang-orang yang memuliakan Al-Qur'an!
dan Apakah ini orang-orang yang mengagungkan Al-Qur'an!


Kalau begitu apa bedanya kita dengan orang-orang yang menginjak-nginjak Al-Qur'an? dan apa bedanya kita dengan orang-orang yang menghina Al-Qur'an?

(Suasana kelas jadi tenang, dan tidak ada satu pun siswa yang mengeluarkan suara berisik dalam kelas)
__________________

Inilah kisah yang sebenarnya tentang benarkah saya (Kak Rio) membolehkan siswanya menginjak-ngijak Al-Qur'an?. 


Secara pribadi saya sebetulnya malu,  jika menuduh orang lain macam-macam, sementara kita belum melakukan proses tabayyun (cross check) kepada yang bersangkutan. Apalagi sampai kita telah menyebar-luaskan berita tersebut, bukankah ini dalam Islam disebut dengan namimah. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ هَمَّازٍ مَّشَّاء بِنَمِيمٍ

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (QS. Al Qalam: 10-11)

Ibnu Abbas juga meriwayatkan:

“(suatu hari) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan lalu berkata, lalu bersabda, “Sesungguhnya penghuni kedua kubur ini sedang diadzab. Dan keduanya bukanlah diadzab karena perkara yang berat untuk ditinggalkan. Yang pertama, tidak membersihkan diri dari air kencingnya. Sedang yang kedua, berjalan kesana kemari menyebarkan namimah.” (HR. Al-Bukhari)


Sesungguhnya apa yang saya jelaskan diatas memang tak bisa kita pungkiri, karena dapat kita lihat dari aktivitas sehari-hari umat Islam itu sendiri masih banyak yang mengabaikan isi Al-Quran. sebagai bukti! ketika Al-Qur’an membicarakan persoalan hukum, umat Islam ramai-ramai menolaknya dengan alasan hukum tersebut tidak mungkin lagi dijalankan. Contohnya, ketika tempo hari Qanun Jinayat disahkan oleh Legislatif Aceh, banyak LSM-LSM yang notabenenya umat Islam namun menolak diterapkan Qanun Jinayat sebagai regulasi resmi hukum lokal di Aceh. Begitu juga aturan berpakain Muslimah di Aceh Barat yang ditentang habis-habisan oleh beberapa kalangan.

Bahkan, penolakan terhadap syari’at pun tidak jarang dilakukan secara terbuka oleh umat Islam sendiri. Disaat Al-Qur’an berbicara standar halal dan haram, umat Islam pun seolah-olah tidak mau tahu dan tidak mau mendengarnya. Semakin banyak saja umat Islam khususnya para pelaksana pemerintahan negeri ini yang melakukan praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang sungguh sangat menyengsarakan rakyat di negeri ini. Hampir setiap hari media massa menyajikan berita seputar kasus KKN yang diperankan oleh aparatur pemerintah.

Ketika Al-Qur’an berbicara kewajiban menutup aurat dan larangan mempertontonkan aurat, ternyata apa yang terjadi? Masih banyak diantara kita yang mengabaikan perintah tersebut. Bahkan Pornoaksi dan Pornografi semakin merajalela. Inikah orang-orang yang mengagungkan Al-Qur'an dan marah tatkala Al-Qur'an dibakar atau dinjak-injak?

Realitas ini menunjukkan bahwa kebanyakan umat Islam hanya mengagungkan Al-Qur’an sebatas simbolik semata. Kecintaan mereka terhadap Al-Qur’an hanya sebatas pada bacaan dan seremonial yang tidak sampai melalui tenggorokan. Al-Qur’an dibaca dan diagungkan fisiknya, tetapi tidak diterapkan. Didengarkan dan disanjung-sanjung tetapi tidak dilaksanakan.

Bukankah hal ini secara tidak langsung telah mencampakkan kandungan dan isi Al-Qur'an. Ketika Al-Qur’an berbicara akidah Islam, justru banyak umat Islam yang masih mempercayai dukun. Melakukan maksiat, khurafat dan sebagainya.

Jika demikan faktanya, hal ini bukanlah sikap yang benar dalam mengagungkan Al-Quran. Bahkan, bisa kita bilang UMAT ISLAM SENDIRILAH YANG MENENTANG DAN MENGINJAK-NGINJAK KANDUNGAN AL-QUR’AN dengan jalan mengamalkan sebagian kandungan Al-Qur’an dan mencampakkan sebagian yang lain. Hal ini tentu sangat memilukan. 

Di satu sisi umat Islam sangat marah ketika ada orang yang lain membakar dan menginjak-nginjak Al-Qur’an. Namun disisi lain, umat Islam sendiri justru acuh tak acuh dalam mengamalkan kandungannya. Padahal, Al-Qur’an merupakan sumber rujukan paling utama bagi umat Islam, dan bagian dari rukun iman. Al-Qur’an adalah pedoman hidup, dan rahmat bagi sekalian alam. Artinya apa? Barangsiapa yang mengaku dirinya sebagai muslim, maka sudah sepantasnyalah dia mengamalkan apa-apa yang terdapat di dalam Al-Qur’an.

Yusuf Qardhawi menyebutkan, paling tidak ada 2 hal yang harus ditempuh agar kita dapat mengamalkan Al-Qur’an dengan baik dan benar. Pertama, kita harus memulainya dengan mengimani Al-Qur’an dahulu secara kaffah, menyeluruh, totalitas, tanpa tawar-menawar. Tanpa iman kepada Al-Qur’an, maka dipastikan akan sulit mengamalkan isi Alquran. Iman kepada Al-Qur’an berarti beriman kepada seluruh kandungan yang ada didalamnya, yang berupa aqidah, ibadah, syiar, akhlaq, adab, syariat, dan muamalah.

Seorang muslim tidak boleh hanya mengambil sebagiannya saja, misalnya dia hanya mengambil bagian aqidah, namun menolak bagian ibadah. Atau dia mengambil bagian syariat, namun menolak aqidah. Atau dia mengambil bagian ekonomi, namun menolak bagian politik, atau pensyariatan bagi segala urusan. Dan seterusnya. Kedua, yaitu dengan memberikan perhatian kita kepada apa-apa yang ada atau yang diperhatikan oleh Al-Qur'an.

Akhirnya, dari ulasan ini kita dapat mengambil hikmah dengan berbagai kasus penghinaan terhadap Al-Qur’an di Amerika dan Eropa, saya pikir sudah saatnya umat Islam benar-benar serius menjadikan Al-Qur’an sebagai Minhajul Hayah (Kurikulum Kehidupan) dalam semua dimensi kehidupan disamping sunnah Nabi tentunya. Nilai-nilai Al-Qur’an harus terpancar secara totalitas dalam semua aspek kehidupan. Mulai dari sistem ekonomi, sosial/muamalah, politik, pendidikan dan berbagai tatanan kehidupan lainnya.



Jutaan mushaf Al-Qur’an di bakar, atau di injak-injak, tidak akan mengurangi sedikitpun kewibawaan dan kesucian Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an bukanlah makhluk atau benda mati.
Al Imam Abu Utsman Ash Shabuni mengatakan dalam risalah Aqidatus Salaf Ashabil Hadits:
Para ahlul hadits bersaksi dan meyakini bahwa Al Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk. Barangsiapa yang mengatakan Al Qur’an adalah makhluk dengan keyakinan, maka dia dianggap kafir oleh para ahlul hadits.”
Allah subhanahu wa ta’ala pun berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Sesungguh-Nya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al Hijr 15:9)


Oleh karenanya jangan kita hanya mengagungkan Al-Qur’an sebatas simbolik semata, yakni menciumnya sehabis membacanya, meletakkan ditempat yang tinggi, dan dibersihkan setiap hari dari debu, Bahkan ada juga yang menjadikan Al-Qur'an hanya sebagai jimat saja,  yakni ditulis di kain putih, serta dikalungkan dilehernya, sementara isi/perintah dalam Al-Qur’an kita melalaikannya. Sesungguhnya iini bukanlah ciri-ciri seorang muslim sejati.

Ingatlah Kemenangan Islam tidak akan kita raih hanya dengan mengkultuskan Al Qur’an sebagai buku, akan tetapi makna dan tauladan didalamnya yang menjadi pondasi kaum muslimin untuk melangkah setiap langkah kedepan, tidak kita amalkan. Wallahu a’lam bisshawab.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar