Sabtu, 09 Oktober 2010

Kita Harus Berjuang

Kota suci Makkah, awal masa kenabian. Ruas-ruas waktu serasa berjalan sangat lamban, seakan turut mengeja duka yang dirasa Rasulullah atas kebengisan orang-orang Quraisy. Seperti hari itu, Rasulullah sedang shalat di sekitar Ka'bah. Sementara Abu Jahal dan kawan-kawannya duduk-duduk memandangi Rasulullah. Mereka saling berseloroh, "Siapa yang berani mengambil isi perut onta dari si fulan lalu menimbunkannya ke atas pundak Muhammad ketika is sujud?" Maka pergilah salah seorang mereka mengambil isi perut onta itu. Ketika Rasulullah sujud, secepatnya is timbunkan kotoran itu ke punggungnya.

Rasulullah terus sujud. Sementara orang-orang kafir yang najis itu terpingkal-pingkal dan saling memandangi satu sama lain. Rasulullah tidak mengangkat sujudnya. Hingga Fatimah, putri tercintanya datang membersihkan kotoran itu. Rasulullah segera bangkit, lalu menengadahkan do'a. "Ya Allah balaslah orang-orang Quraisy itu."

Di kali lain, Rasulullah berjalan di lorong Makkah. Tiba-tiba orang-orang Quraisy mengguyurkan tanah ke atas kepalanya. Rasulullah bergegas pulang. Setibanya di rumah, putri tercintanya menangis melihat apa yang dialami ayahnya. la lantas membersihkan tanah itu. Rasulullah menghibur putrinya, 'Wahai anakku, janganlah engkau menangis. Sesungguhnya Allah melindungi ayahmu."


Kisah di atas bukan sekadar penggalan sirah Rasulullah yang mulia. Lebih dari itu, ini juga sebuah sikap. Bahkan sebuah deklarasi yang menjelaskan kepada kita, bahwa perjuangan –dalam konteks apapun– selalu berat.

Kali pertama agama ini diturunkan, ia diturunkan dalam garis dan rel perjuangan. Sebagaimana para Rasul sebelumnya harus berjuang keras menyampaikan wahyu kepada kaum mereka. Sebagian dari mereka terbunuh, sebagian besar lainnya dilecehkan, dianiaya, disiksa dan diusir. Agama ini memang tidak tegak dalam sekejap. Tidak juga teguh dengan biaya murah.

Berjuta-juta jiwa gugur dan tertanam di bumi. Berjuta-juta nyawa pulang ke hadapan Allah. Berjuta-juta tubuh bergelimang darah dan air mata. Berjuta jiwa tercekam, terusir, terasing, terpinggirkan, bahkan tenlindas arogansi orang-orang yang dzalim. Semuanya demi tegaknya agama Islam. Dengan jelas Allah berfirman, "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat" (QS. AI-Baqarah: 214).

Ketegaran Rasulullah juga memberi penegasan lain. Bahwa perjuangan tidak saja soal berat dan bebannya. Tapi juga sebuah ekspektasi kebahagiaan jiwa. Artinya, perjuangan yang benar akan memberi samudera bahagia di tengah mata air derita. Memberi makna keberartian di tengah peminggiran dan pengusiran. Memberi rasa pengharapan dan kepasrahan mendalam kepada Allah di tengah penindasan dan kesewenang-wenangan. Sekali lagi, perjuangan adalah sungai bahagia yang menganak panjang. Hulunya adalah janji dan jaminan Allah. Hilirnya adalah kemenang¬an dan peneguhan.

Itulah rahasia terbesar para pejuang. Sekaligus argumen terkuat mengapa perjuangan selalu melahirkan orang-orang perkasa, tegar, kokoh. Hidup di dunia ini dilahirkan di atas rel perjuangan: perjuangan untuk hidup. Perjuangan untuk memenuhi hak-hak orang lain. Perjuangan untuk hidup di atas jalan yang lurus sesuai aturan Allah. Perjuangan untuk melawan godaan hawa nafsu dan rayuan syetan. Perjuangan untuk mengejar kehendak dan cita-cita. Termasuk, perjuangan untuk menyambung hidup itu sendiri, dengan nafas-nafas dunia dan pengharapan kepada hari akhirat.

Setiap kita punya cara sendiri untuk hidup. Itu tak soal. Di jalan-jalan raya yang keras, di kantor-kantor megah yang sejuk, di kampus-kampus yang gegap gempita, di tengah samudera yang bergelombang, di sawah-sawah dan ladang-ladang yang tenang, di rumah-rumah yang pengap maupun lapang, di batik deru mesin-mesin industri yang bising, di dalam lorong panjang pertambangan yang mencekam, setiap hari, setiap waktu, setiap orang menyambung nafas-nafas kehidupannya. Ada berjuta cara untuk hidup. Tetapi, perjuangan hanya kosakata untuk cara hidup yang lurus. Perjuangan hanya bahasa untuk pengorbanan yang benar. Maka, menyambung hidup dengan cara kotor, licik, dan kerdil sama sekali bukan perjuangan. Sampai pun bila hidup secara kotor lebih melelahkan dan lebih memakan pengorbanan.

Hidup adalah perjuangan, dalam konteks dunia maupun akhirat, dalam kepentingan agama maupun kepentingan kemanusiaan. Membangun sarana pendidikan adalah berjuang, menyantuni anak-anak yatim, mencari nafkah, menyayangi dan mendidik anak-anak, mendirikan tempat-tampat pengobatan gratis, menyuarakan kebenaran dihadapan penguasa, meninggikan syiar agama adalah berjuang.

Perjuangan tidak mengenal batas. Apa saja yang kita berikan untuk kebaikan adalah berjuang. Perjuangan adalah nafas dan naluri kehidupan setiap hari. Kita memang harus berjuang, karena di sanalah habibat kemanusiaan dan kemusliman kita. Karena di sanalah tempat kita menabung, untuk dipanen anak cucu kita sebagai amal jariyah, atau kita panen sendiri di akhirat kelak sebagai amal kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar