Sabtu, 03 April 2010

UN Menciptakan Generasi "Sim Salabim"

Oleh. Rio Efendi Turipno *)

Pro dan kontra yang muncul di tengah-tengah masyarakat dewasa ini mengenai fenomena UN perlu dilihat sebagai sebuah upaya kritis dari seluruh elemen masyarakat dengan tujuan supaya keberlangsungan proses pendidikan berjalan pada rel yang benar. Mengingat sebuah kebijakan pemerintah harus memuat ’visi’ yang kokoh, dapat dipertanggung-jawabkan, dan dapat di share ke ruang publik.

Apakah Terus menjalankan kebijakan UN, mengkaji ulang kebijakan UN, mengurangi kecurangan-kecurangan dalam praktik UN, atau menghapuskan kebijakan UN. Prinsipnya adalah pilihan-pilihan yang dapat diambil oleh pemerintah harus dilakukan dengan memiliki landasan visi yang logis secara substansial, berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan bangsa, serta dapat dipahami oleh seluruh stakeholders pendidikan.

Hanya sayang, jika kebijakan UN terus dipertahankan, maka ’sim salabim…’ akan hadirlah potret generasi bangsa berikut.

Tahun 2004: Mashudi (19), siswa kelas IPS warga desa Sendy Sikucing, Rowosari, Kendal. Siswa sebuah SMA swasta di Weleri, Kab. Kendal, Jawa Tengah mencoba bunuh diri, setelah dirinya tahu tidak lulus UN (Kompas, Senin 14 Juni 2004). Generasi depresi, stres, dan bunuh diri menjadi fenomena ’gunung es’ yang mesti dicermati secara serius.

Tahun 2007: 117 siswa SMA Taman Siswa harus menerima kenyataan pahit setelah dinyatakan gagal. Menurut pengakuan siswa yang tidak lulus, umumnya mereka dinyatakan gagal pada mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diujikan pada hari pertama. Diduga mendapatkan bocoran jawaban yang menyesatkan.

Bukankah ini menciptakan Generasi tidak pede, tidak kenal potensi diri, dan tidak jujur adalah kegagalan besar proses pemberdayaan diri siswa yang terjadi akibat dari pelaksanaan UN.

Masih pada Tahun yang sama (2007) Deden Nugraha (21), siswa cerdas yang tak lulus ujian sampai tiga kali kesempatan merupakan fenomena ‘ajaib’ yang cukup menarik untuk disimak. Semasa sekolah di Madrasah Aliyah, Deden selalu masuk ranking 2 besar di sekolahnya, bahkan pada akhir semester II kelas 3, Deden berhasil menjadi juara kelas. Nilai di Rapornya menunjukkan nilai 9 (2 buah), nilai 8 (8 buah), dan nilai 7 (3 buah). Selain prestasi di kelas, dia juga merupakan pemegang titel juara II murottal dan menjadi salah satu alumnus pelatihan jurnalistik Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS). Kegagalannya dalam mengikuti UN tidak membuatnya frustrasi, malah kegagalan tersebut berhasil dikonversi olehnya melalui karya hebatnya menjadi penyiar andalan di MQ Televisi Bandung dan Radio Lita FM Cimahi. Deden pun pernah menyatakan satu hal penting tentang rasa keprihatinannya terkait fenomena UN, “Saya prihatin, banyak teman saya yang memiliki tanda lulus tapi tak bisa berbuat apa-apa.”

Tidak ketinggalan juga UN pada tahun ini (2010), penuh dengan kecurangan. Akhirnya Masyarakat pun angkat bicara "Kebijakan UN secara dasar, prinsip, filosofi dan genetikanya sudah bermasalah," kata anggota Aliansi Pelajar & Masyarakat Tolak UN, Muhamad Isnur saat jumpa pers di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng Raya, Jakarta Pusat, Kamis (25/3/2010).

Apakah dengan UN siswa kita menjadi lebih jujur pada kemampuan dirinya sendiri? Apakah dengan UN siswa kita menjadi lebih termotivasi untuk mengeksplorasi potensi uniknya yang tak terbandingkan dengan individu lain? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab segera dari perlu tidaknya UN dilaksanakan.

Jika UN tak mampu menjawab pertanyaan itu semua, lantas kita pun menjadi bertanya, akan dibawa kemanakah arah pendidikan bangsa kita ini?

Jangan Sampai UN akan menciptakan "Generasi Sim Salabim"

----------------------
*) Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
     Jurusan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar