Selasa, 12 Oktober 2010

Makna kata ”Aku”, ”Kami”, dan ”Allah” dalam Al-Qur’an

Oleh. Rio Efendi Turipno

Seorang Mahasiswa Univeritas Negeri Manado (UNIMA) bertanya tentang apa makna kata ganti ”AKU”, KAMI, dan ALLAH dalam Al-Qur’an? Apakah Islam Tuhannya lebih dari satu?

Sebelum menjawabnya disini saya lampirkan beberapa Ayat Al-Qur’an yang memiliki keterkaitan dengan pertanyaan diatas.

كَلَّا إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِمَّا يَعْلَمُونَ فَلَا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ  عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ خَيْرًا مِنْهُمْ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ [سورة المعارج :39-41 ]
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani). Maka Aku bersumpah dengan Tuhan yang memiliki timur dan barat, Sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa. Untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan. (Qs. Al-Ma’aarij :39:41)
    إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [سورة الحجر: 9]
"Sesungguh-Nya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al Hijr 15:9)

Ayat-ayat diatas memang seringkali digunakan oleh para missionaris dalam mencari kelemahan Islam. Dengan ayat tersebut mereka menyimpulkan bahwa Allah (Tuhan)nya umat Islam tidak Esa, melainkan jamak (banyak). Karena dalam Al-Qur’an Tuhannya umat Islam seringkali menggunakan kata ”Kami” untuk menunjukkan dirinya, yang memiliki arti jamak atau lebih dari satu.

Padahal tuduhan tersebut cukup membuktikan bahwa mereka sama sekali tidak memahami tentang tata bahasa Arab sedikit pun.

Makna Kata Kami
Dalam tata bahasa Arab, kata   نَحْنُ(nahnu) dengan dlamir نَا (na) pada beberapa ayat al-Qur’an diatas, dapat di gunakan untuk menujukkan makna:”lebih dari satu” atau ”satu, tapi menunjuk kepada keagungan dan kebesaran Allah”

Artinya disini ada 2 pendekatan makna terhadap kata  نَحْنُ, yakni:
1.     Sebagai mutakallim ma`a Ghoirihi (bermakna banyak atau sebagai kata ganti orang pertama jamak)

2.     Sebagai makna muadz-Dzom nafsah (yaitu makna untuk menyatakan kebesaran atas diri-Nya),

Nah untuk ayat-ayat dalam al-Qur’an kata nahnu yang digunakan untuk Allah bermakna muadz-Dzom nafsah (yaitu untuk menyatakan kebesaran atas diri-Nya), sebagai contoh pada ayat-ayat diatas:

1.     إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ   artinya “Kami ciptakan mereka” (hal ini bermakna Allah Maha Pencipta)

2.      نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ artinya “Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan" (maknanya menujukkan bahwa Allah Maha Kuasa dan tidak tertandingi).

3.      وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ artinya Kami benar-benar memeliharanya” (Ini menunjukkan bahwa Allah maha pemelihara)


Selain penjelasan diatas, kita juga dapat memahami bahwa, Allah menggunakan bentuk jamak dalam beberapa perbuatan-Nya yang di kisahkan dalam Al-Qur’an, karena tindakan tersebut secara proses Allah melibatkan makhluk lain, baik itu malaikat atau pun manusia, seperti contoh beberapa ayat dibawah ini:

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

”Dan tidak Kami mengutus Rasul sebelum kamu..” (Qs. Al-Furqan : 20.)
 

إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى

Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan...” (Qs. Al-Hujuraat : 13)

ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا

”...kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni'mat dari Kami” (Qs. Az-Zumar : 49)

إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguh-Nya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al Hijr 15:9)

Dari beberapa ayat ini menunjukkan bahwa, dalam mengutus para Rasul dan menurunkan wahyu serta memberikan nikmat kepada manusia, secara proses hal tersebut melibatkan para malaikat sebagai pembantu Allah. Begitu pula dalam penciptaan manusia hal ini melibatkan manusia itu sendiri dan juga malaikat. Manusia disini berperan dalam mulai dari proses terjadinya pembuahan (bertemu antara sperma laki-laki dan sel telur), sementara malaikat Allah mewakilkannya untuk menyempurnakan proses penciptaan tersebut, hingga pada 40 hari yang ketiga Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh ke dalam jasad manusia dan mencatat empat ketetapan Allah dari Lauhil Mahfuzh, ketetapan rezki, amal perbuatan, usia dan nasibnya di akhirat.


Dengan demikian, maka ungkapan خَلَقْنَا (khalaqnaa) sangat tepat untuk menunjukkan bahwa dalam proses penciptaan manusia, Allah berkuasa untuk mewakilkan kepada malaikat-Nya. Itulah kekuasaan Allah.  Namun hal ini bukan berarti Allah tidak mampu berbuat sendiri, sehingga perlu mewakilkannya kepada malaikat. Justru ayat ini menunjukkan ke Maha Kuasaan Allah dalam melakukan segalah hal. Karena dalam menciptakan sesuatu Allah mampu menciptakan tanpa diwakilkan dan mampu pula menciptakan melalui perwakilan-Nya. Perhatikan bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi. Dimana dalam penciptaan ini, Allah menciptannya tanpa perwakilan. Dan Sungguh Allah Maha Berkuasa dalam segala sesuatu.
  وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi….” (QS. Huud : 7)

Makna Kata ”Aku dan Tuhan”
فَلَا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ
Artinya: ”Maka Aku bersumpah dengan Tuhan yang memiliki timur dan barat” (Qs. Al-Ma’aarij :39:41)

Disini dapat dijelaskan bahwa kata ”Aku” pada ayat diatas menunjukkan pribadi Allah subhanahu wata’ala itu sendiri, sedangkan makna  ”birabbil masyaariqi wal-maghaaribi” ini lebih mengarah kepada kekuasaan Allah.

Mungkin akan timbul pertanyaan disini mengapa Allah bersumpah dengan kekuasaannya? Nah, perlu diketahui makna sumpah Allah berbeda dengan sumpah yang  sering diucapkan oleh manusia. Karena sumpah yang Allah ucapkan dengan menggunakan nama sesuatu, menunjukkan bahwa hal tersebut memiliki keistimewaan yang perlu diperhatikan oleh manusia. Salah satu contoh:

وَالْعَصْرِ
Artinya: ”Demi Masa (waktu)” (Qs. Al Ashr : 1)

Ini menunjukkan bahwa waktu dalam Islam begitu penting, makanya sebagai manusia kita harus benar-benar memperhatikan dan mempergunakan waktu sebaik-baiknya, karena hanya orang-orang yang merugilah yang tidak dapat menggunakan waktu sebaik-baiknya. Begitu juga dengan sumpah-sumpah Allah yang lainnya, disini Allah hendak menegaskan kepada kita tentang keistimewaannya.

Makna Kata ”Allah”

Dalam konsepsi Islam, Allah adalah nama diri (proper name) dari Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam kaidah bahasa Arab kata Allah itu bentuknya ism jamid, yaitu ”ism yang tidak diambil dari kata kerja”, sehingga tidak dapat dirubah dalam bentuk apapun. Berbeda dengan kata “rabbun”, bentuknya adalah ism mustaq, yakni ism yang diambil dari kata kerja seperti rabba, rabbi, tarbiyatan termasuk kata al-ilah (yang disembah). 
Dengan demikian dalam Islam, "nama Tuhan", yakni "Allah" itu bersifat otentik dan final tidak bisa dirubah-rubah lagi. Allah berfirman dalam Al Qur’an:

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى  [سورة الإسراء: 110]
”Serulah Allah atau serulah Yang Maha Pengasih (ar-Rahman) Dengan nama apa saja kamu menyeru Dia; maka Dia memiliki nama-nama yang indah (asma-ul-husna) (Qs. 17 al-Israa’ : 110)


Makna Kata ”YAHWE” Dalam Agama Yahudi dan Kristen

Lain halnya dengan Kata YHWH, Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan mereka adalah Yahweh.

The Concise Oxford Dictionary of World Religions menjelaskan tentang 'Yahweh' 

"The God of Judaism as the ‘ tetragrammaton YHWH, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy." 

(Tuhan Kaum Yahudi berasal dari empat huruf YHWH, mungkin pernah diucapkan. Bagi kaum ortodoks dan banyak orang Yahudi, nama Tuhan tidak pernah diartikulasikan, apalagi dalam liturgi Yahudi).

שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה ׀ אֶחָֽד
“syema' yisra'el yehovah 'eloheinû yehovah, ekhad "

(Dengarlah Hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa (Ulangan 6:4))

Tidak ada yang tahu persis bagaimana mengucapkan empat huruf sakral יהוה = YHVH dalam Perjanjian Lama, seperti pada ayat diatas. Karena tidak memiliki tradisi sanad yang sampai kepada Nabi Musa a.s. maka kaum Yahudi tidak dapat membaca dengan pasti empat huruf "YHWH". Mereka hanya dapat menduga-duga, empat huruf konsonan itu dulunya dibaca YAHWEH. Karena itu, kaum Yahudi Ortodoks tidak mau membaca empat huruf mati tersebut, dan jika ketemu dengan empat konsonan tersebut, mereka membacanya dengan Adonai (Tuhan).

Sejak pembuangan ke Babel sekitar tahun 586 sebelum Masehi yang berlangsung selama 70 tahun, tabut perjanjian itu tidak ada sehingga kata יהוה = YHVH tidak diucapkan lagi sejak saat itu hingga sekarang. Oleh karena itu -- barangkali karena Imam Besar Yahudi tidak mengajarkan cara mengucapkan kepada keturunannya --tidak ada kalangan Yahudi yang mengetahui cara mengucapkan empat huruf יהוה = YHVH itu dengan tepat.
  
Banyak yang hanya menebak atau menduga bahwa empat huruf ini dibunyikan YAHAVAH, YEHUWA, YAHEVEH, YAHUWEH, YAHAVEH, dan seterusnya, jadi semuanya hanya menduga sehingga akhirnya baik YEHOVAH maupun YAHWEH hanyalah merupakan nama "dugaan". Sementara bagi orang Kristen, "Allah" bukanlah nama diri, seperti dalam konsep Islam. Tetapi, bagi mereka, "Allah" adalah sebutan untuk "Tuhan itu" (al-ilah). Jadi, bagi mereka, tidak ada masalah, apakah Tuhan disebut God, Lord, Allah, atau Yahweh. Yang penting, sebutan itu menunjuk kepada "Tuhan itu". Ini tentu berbeda dengan konsep Islam.

Sebagai Muslim, kita meyakini, Islam adalah agama yang benar. Tuhan kita Allah, yang nama-Nya diperkenalkan langsung dalam al-Quran. Tidaklah patut kita membuat teori-teori yang berasal dari spekulasi akal, dengan menyama-nyamakan Allah dengan yang lain, atau mensyarikatkan Allah dengan yang lain.  

Wallahu a’lam bish-shawwab.

1 komentar:

  1. malah tambah bingung bacanya.
    Bahasanya ketinggian

    bisa dijelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana gak bro...

    BalasHapus